1,5 Juta Mudikers Lolos, Ada Peluang Covid-19 Berpesta Lagi

News - Tirta, CNBC Indonesia
12 May 2021 19:00
kemacetan di pos penyekatan, Jalur Pantura Kedung Waringin, perbatasan Kabupaten Bekasi-Karawang, Senin (10/5/2021).  Dari data yang didpat dari jam 8.00 wib hingga 15.00 wib sebayak 512 kendaraan yang telah diputar balik.  (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hasrat untuk bersilaturahmi dengan sanak famili di kampung halaman tampaknya sudah tak terbendung lagi hingga kebijakan larangan mudik pun diterjang. Ternyata tidak sedikit juga yang meninggalkan ibu kota dalam beberapa hari terakhir. 

Meskipun polisi sudah diterjunkan di berbagai pos untuk menghalau balik arus keluar dari Jakarta, tetap saja ada yang lolos. Pengendara sepeda motor hingga travel gelap banyak juga yang bisa menghindari kejaran aparat. 

Berdasarkan angka dari Polda Metro Jaya, sudah ada 1,2 juta orang yang keluar dari Jakarta lewat tol. Sementara itu yang menggunakan sepeda motor mencapai lebih dari 300 ribu. Sehingga kalau ditotal sudah ada lebih dari 1,5 juta orang eksodus dari ibu kota. 


Jika dibandingkan dengan angka dalam kondisi normal sebelum pandemi tentu sangatlah kecil angka tersebut karena baru sekitar 10% saja dari total pemudik. Namun dalam kondisi pandemi tentu saja hal tersebut sangatlah mengkhawatirkan. 

Apalagi saat diinspeksi di beberapa pos tercatat ada 4.123 orang terkonfirmasi positif Covid-19. Jumlah tersebut didapat dari melakukan testing ke 6.742 orang di 381 lokasi operasi Ketupat. Artinya tingkat kasus positifnya mencapai 61%.

Terlepas dari tingkat akurasi kit yang digunakan, adanya arus mudik yang masif memang perlu dikhawatirkan. Bagaimanapun juga setiap orang berpeluang untuk menjadi penyebar (spreader) virus Corona ke daerahnya masing-masing. 

Apabila hal ini terjadi tentu saja dampak yang dirasakan bisa semakin parah. Memang benar, tren kasus infeksi harian dan positivity rate di RI menurun. Namun bukan jaminan kalau sudah turun bisa kebablasan walaupun vaksinasi juga sudah digeber. 

Bukti nyatanya adalah India. Sebagai negara dengan penduduk terbesar kedua di dunia setelah China, gelombang kedua Covid-19 yang menghantam India sejak bulan Maret jauh lebih parah dari gelombang pertama. 

Pada September lalu, kasus infeksi harian di Negeri Bollywood mencapai peak di angka hampir 90 ribu kasus per hari. Setelahnya kasus melandai. Namun kali ini jumlah kasus baru sudah tembus angka 400 ribu per hari. Artinya dalam waktu singkat kasus sudah menyebar dan meluas dengan laju hampir 5x dari awal. 

Walaupun kasus ini dikaitkan dengan temuan mutan baru virus Corona, tetapi masih dibutuhkan bukti lebih lanjut. Banyak pihak yang menyalahkan bahwa tsunami Covid-19 di India disebabkan oleh perkumpulan acara keagamaan dalam jumlah yang masif, dibukanya tempat-tempat umum hingga masalah pemilihan umum. 

Kondisi di India tentu saja sangat mengenaskan. Tingkat keterisian kamar rumah sakit mencapai lebih dari 75% di Mumbai, Delhi hingga Ahmedabad pada minggu terakhir April. Hampir 100% kamar ICU diisi oleh pasien penderita Covid-19.

Tenaga kesehatan di India kewalahan. Pasokan oksigen yang langka semakin memperburuk kondisi. Angka kematian yang dilaporkan pun meningkat dengan tajam. India mau tak mau harus kembali mengunci perekonomiannya. 

Sedih rasanya, padahal India baru saja diramal bakal tumbuh 9% tahun ini oleh institusi keuangan global. Namun dengan adanya lockdown akibat serangan kedua Covid-19, pemulihan ekonomi tinggalah angan-angan. Kasus ini tentu saja menjadi contoh bagi Indonesia. 

Lagipula terlepas dari berbagai kontroversi, keberhasilan China keluar dari pandemi yang pertama kali dinilai karena Negeri Panda berhasil membatasi mobilitas publik sehingga wabah tidak menyebar semakin luas dan dapat dijinakkan dengan segera. 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kereta Api Antar Kota Setop Operasi Di Masa Larangan Mudik


(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading