Internasional

Kasus Corona India Tembus 20 Juta, PM Modi Mau Lockdown?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
05 May 2021 10:09
Supporter of India's ruling Bharatiya Janata Party (BJP) wearing cut-outs of Prime Minister Narendra Modi and the party president Amit Shah walk during an election campaign in Ahmedabad, India, April 11, 2019. REUTERS/Amit Dave     TPX IMAGES OF THE DAY Foto: (REUTERS / Amit Dave )

Jakarta, CNBC Indonesia - Tsunami corona di India belum juga surut. Selama  13 hari terakhir berturut-turut, angka kasus Covid-19 baru di negeri itu terus bertambah rata-rata 300.000 per hari.

Kemarin, Selasa (4/5/2021), total kasus infeksi Covid-19 di India melonjak melewati 20 juta orang. Ini akibat laporan kasus harian baru sebanyak 355.828.


Bukan hanya itu angka kematian harian juga naik menjadi 222.383. Ini akibat penambahan kematian baru dalam sehari, sebanyak 3.438

Melihat hal ini, banyak yang mendesak Perdana Menteri India untuk segera melakukan penguncian (lockdown) secara nasional. Sebelumnya Perdana Menteri India Narendra Modi selalu menentang ide ini.

"Satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran Corona sekarang adalah penguncian penuh ... kelambanan Pemerintah Indonesia membunuh banyak orang yang tidak bersalah," kata pemimpin oposisi India, Rahul Gandhi di Twitter, dikutip Rabu (5/5/2021).

Lonjakan kasus varian Covid-19 India yang sangat menular telah membebankan sistem kesehatan, menguras pasokan oksigen medis, dan menewaskan banyak orang sebelum sempat mendapatkan perawatan. Sebagian besar mereka tewas di ambulans dan tempat parkir di luar rumah sakit.

Modi telah dikritik karena tidak bergerak lebih cepat untuk membatasi gelombang infeksi terbaru. Ia pun membiarkan jutaan orang yang sebagian besar tidak bertopeng menghadiri festival keagamaan dan rapat umum politik yang ramai selama Maret dan April.

Pemodelan pemerintah menunjukkan kasus dapat mencapai puncaknya pada Rabu pekan ini, beberapa hari lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Virus telah menyebar lebih cepat dari yang diperkirakan.

Lonjakan Covid-19 di India bertepatan dengan penurunan drastis dalam vaksinasi karena masalah pasokan dan pengiriman. Setidaknya tiga negara bagian India, termasuk negara bagian terkaya di Maharashtra yang mencakup Mumbai, terus melaporkan kelangkaan vaksin.

"Apa yang diungkapkan beberapa pekan terakhir adalah bahwa baik pusat maupun negara bagian sangat tidak siap untuk gelombang kedua," kata editorial di Times of India pada hari Selasa.

Sebelumnya, salah satu crazy rich juga menggemakan lockdown. Uday Kodak, banker yang juga pemilik Kodak Mahindra Bank itu menyerukan peningkatan tindakan penguncian di India dan mendesak "langkah nasional terkuat" termasuk membatasi aktivitas ekonomi untuk mengurangi penderitaan.

"Pada saat kritis ini ketika (jumlah) korban nyawa meningkat ... melindungi nyawa adalah prioritas utama dan langkah-langkah respons maksimal nasional pada tingkat tertinggi (harus) diminta untuk memutus jalur transmisi," kata Kodak sebagaimana dikutip Forbes, Selasa (4/5/2021).

"Kita harus memperhatikan nasihat ahli tentang hal ini, dari India dan luar negeri."

Ini juga disampaikan ahli pandemi sekaligus penasihat Covid-19 Gedung Putih, Amerika Serikat (AS) Anthony Fauci. India harus mengunci diri selama beberapa minggu untuk menahan lonjakan kasus Covid yang makin menghancurkan.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading