Di Atas Kertas Harga Rumah 'Terbang', Pengembang: Belum Naik!

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
28 April 2021 14:57
Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.
Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.
Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.
Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit.

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Real Estat Indonesia Paulus Totok Lusida memastikan tidak ada kenaikan harga properti pasca adanya relaksasi sektor properti oleh pemerintah. 

"Tidak, tidak ada kenaikan harga, saya sudah konfirmasi ke pengembang tidak ada yang menaikkan harga, karena kita diberi relaksasi untuk mendorong cash flow kita sehingga efek domino berjalan," tegasnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (28/4/2021).

Ia mempertanyakan riset dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Housing Finance Center yang menunjukkan adanya kenaikan harga rumah.


"Belum ada kenaikan semua. Kita ini dalam program ekonomi nasional. Jadi tanya aja BTN standar indeksnya dari sudut pandang mana harga naik," jelasnya.

Selain itu Totok juga bicara mengenai pasca relaksasi dari pemerintah, permintaan rumah memang kian meningkat. Dari catatan pada bulan Maret rata-rata penjualan rumah naik 15% dibanding bulan sebelumnya.

Khususnya dari rumah stok dengan tipe yang di bawah Rp 1 miliar, dengan pangsa pasar mencapai 82,3%. Tapi jika dibandingkan tahun sebelum pandemi Covid - 19 yakni 2019 masih sangat jauh.

"Dibanding Maret tahun 2020, belum tahu tapi kalau 2019 kita masih jauh, yang jelas kita sudah on the right track pemulihan nasional," jelasnya.

Pengamat Properti Ali Tranghanda justru mengakui ada kenaikan harga properti pada kuartal I-2021. Ia menjelaskan kenaikan harga karena permintaan yang mulai menanjak.

"Secara rata-rata harga naik 0,7% Q to Q tapi indikasi naik ini karena selama dua tahun terakhir tidak naik. Saat ini juga permintaan sedang naik," jelasnya kepada CNBC Indonesia.

Investor Relation and Research Division Head Bank BTN, Winang Budoyo juga merilis riset terbaru soal Housing Price Index (HPI) nasional naik dari 170,12 di Maret 2021 menjadi 179,02 di bulan sama tahun sebelumnya. Kenaikan harga rumah nasional per Maret 2021 ditopang dari rumah tipe 70 sebesar 5,49% year on year, dari 153,40 menjadi 161,82 per triwulan I-2021.

Peningkatan harga rumah di tipe 70 bahkan lebih tinggi dibanding pertumbuhan sebelum pandemic yakni 4,86% yoy di Desember 2019.

"Vaksinasi sebagai salah satu program pemerintah sepertinya telah memberikan kepastian kondisi ekonomi ke depan, sehingga masyarakat mulai percaya diri untuk kembali melakukan pembelian," jelas Winang dalam pernyataan resmi.

Hasil riset HFC juga mencatat rumah tipe 36 dan 45 ikut naik. Rumah 36 terpantau naik 5,54% YoY per Maret menjadi 194,91 dan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2020 sebesar 4,26% YoY. Dijelaskan juga permintaan naik karena adanya subsidi dan stimulus pemerintah di sektor perumahan subsidi.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading