Indonesia Terancam Impor Ayam, Peternak RI Menjerit!

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
23 April 2021 19:19
Peternak memanen telur ayam di peternakan kawasan Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/2/2020). Pemerintah resmi menaikkan harga acuan daging dan telur ayam ras untuk mengimbangi penyesuaian tingkat harga di pasar yakni harga telur ayam di tingkat peternak dinaikkan dari Rp18 ribu-Rp20 ribu per kg menjadi Rp19 ribu-Rp21 ribu per kg sedangkan daging ayam ras dinaikkan dari Rp18 ribu-Rp19 ribu per kg menjadi Rp19 ribu-Rp20 ribu per kg. Lukman 45 tahun Peternak  mengatakan kenaikan harga tersebut sebagai hal yang positif. Sebab, bila tidak hal itu tentu dirasakan merugikan. Pasalnya, saat ini nilai tukar dolar terhadap rupiah tengah menguat dan mempengaruhi berbagai hal, termasuk biaya transportasi.
 (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peternak ayam blak-blakan soal kondisi peternakan di tengah tingginya harga pakan yang berdampak pada lonjakan harga daging ayam. Upaya pemerintah yang memberikan sinyal soal Indonesia bisa diserbu ayam impor murah ditanggapi sinis oleh peternak.

"Yang urgensi harga pakan naik terus karena jagung naik. Jadi pakan naik terus, biaya produksi naik. Harga pakan berpengaruh karena 70% biaya produksi dari pakan. Jagung bisa diganti dengan tepung gandum tapi juga harus impor," kata Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Singgih Januratmoko kepada CNBC Indonesia, Jumat (23/4/21).

Ketika upaya produksi dalam negeri juga memerlukan pakan impor, tidak menutup kemungkinan harganya bisa lebih mahal akibat proses distribusi. Akibatnya biaya produksi pun bisa menjadi lebih mahal. Dengan demikian, ancaman gulung tikar pelaku pasar juga semakin nyata.


"Akan merembes juga daging-daging itu dengan harga di bawahnya. Mau nggak mau pelaku atau produsen dari daging peternak akan selesai, gulung tikar," sebut Sekretaris Jenderal Gabungan Asosiasi Pengusaha Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi.

Saat ini, dari hari ke hari jumlah peternak mandiri di Jabodetabek kian menurun. Namun jika membandingkan dengan peternak di daerah lain seperti Jawa Tengah serta Jawa Timur, Sugeng menyebut maka jumlah peternak di Jabodetabek masih lebih besar.

"Namun dengan adanya impor, peternak kecil yang hanya tersisa maksimal 20%, itu akan habis, akan selesai, tunggu waktu, artinya secara prospektif ke depan akan hilang, abis. Ke depan trennya akan hilang, karena masih ada lapak-lapak yang memang andalannya ayam-ayam hidup," sebut Sugeng.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

RI Terancam Diserbu Daging Ayam Impor, Sudah Lampu Kuning!


(hoi/hoi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading