Kuota Produksi Batu Bara RI Ditambah, Gak Takut Harga Drop?

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
14 April 2021 19:47
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tidak mau ketinggalan momentum memanfaatkan harga batu bara yang sedang tinggi. Sampai mengambil keputusan untuk menaikkan target produksi batu bara nasional tahun ini.

Target produksi batu bara pada 2021 ini dinaikkan sebesar 75 juta ton, 13,6% dari target semula 550 juta ton menjadi 625 juta ton.

Dengan tambahan target produksi ini, maka tentunya pasokan batu bara di pasar akan semakin melimpah. Ketika pasokan berlebih, maka bisa berdampak pada penurunan harga nantinya.


Lalu, apakah pengusaha tidak khawatir harga bisa turun karena berlebihnya pasokan batu bara ini nantinya?

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia tidak membantah jika harga akan dipengaruhi oleh suplai.

Harga yang menguat beberapa bulan ini pun dipengaruhi oleh kondisi suplai. Seperti diketahui, banjir yang menerjang Kalimantan dan Sulawesi berdampak pada terkendalanya pasokan.

"Tentu harga akan dipengaruhi oleh suplai. Suplai yang buat harga menguat beberapa bulan ini karena suplai kita terkendala curah hujan cuaca ekstrem," paparnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Rabu (14/04/2021).

Kondisi ini menurutnya berdampak pada kurangnya suplai dan mendorong harga yang semakin kuat. Tidak hanya di Indonesia, bencana banjir juga menerjang Australia.

"Ini faktor membuat suplai terhambat, sehingga dorong harga menguat," ujarnya.

Meski demikian, menurutnya setiap perusahaan punya kepentingan masing-masing. Oleh karena itu, menurutnya tidak bisa dihindari jika perusahaan mau meningkatkan produksi dan pemerintah mengakomodir hal tersebut.

"Ini bisa berujung pada harga dan belum ada yang bisa proyeksikan. Kita ambil momentum harga yang membaik dan pemerintah ada kepentingan dari penerimaan," jelasnya.

Ketua Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo mengatakan hal serupa. Dia bahkan mengatakan dengan tambahan target produksi nasional mencapai 75 juta ton menjadi 625 juta ton ini, penurunan harga batu bara sangat memungkinkan terjadi.

"Tekanan ada, tapi kita harap nggak bikin harga turun. Tapi potensi turun lebih terbuka," ungkapnya.

Menurutnya, jika pemerintah mau meningkatkan produksi idealnya di angka 595 juta - 600 juta ton karena sudah cukup untuk mengakomodir kepentingan perusahaan.

"Produksi 595 juta atau 600 juta ton itu menurut saya lebih tepat pada ruang-ruang pasar global yang bisa diambil potensinya," ujarnya.

Namun dia berpendapat jika keputusan awal pemerintah menargetkan produksi 550 juta ton tahun ini sebenarnya sudah tepat, terutama sebagai upaya pengendalian produksi.

Sementara itu, General Manager Legal and External Affairs PT Arutmin Indonesia Ezra Sibarani mengatakan saat ini perusahaan masih mengkaji secara internal mengenai rencana penambahan produksi.

"Saat ini kita masih kaji secara internal," ujarnya.

Dia membenarkan jika kondisi pasar ekspor saat ini memang sudah lebih baik.

"Akan tetapi sekarang Australia sudah membaik, jadi harus diperhatikan keseimbangan supply dan demand juga," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading