Baru Februari 2021, Pemerintahan Jokowi Sudah Utang Rp 273 T

News - Lidya Julita S, CNBC Indonesia
23 March 2021 12:59
Ilustrasi dolar Australia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih ekspansif karena kebutuhan penanganan pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) baik dari aspek kesehatan maupun sosial-ekonomi. Ini membuat defisit anggaran masih cukup dalam.

Per akhir Februari 2021, defisit APBN berada di 0,36% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu 0,4% PDB.

Untuk 2021, realisasi pembiayaan utang hingga akhir Februari adalah Rp 273 triliun. Naik 135,4% dibandingkan Februari 2020 (year-on-year/YoY).


Pembiayaan utang terdiri dari dua pos. Pertama adalah penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang secara neto adalah Rp 271,4 triliun. Naik 138,4% YoY.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan sistem penyediaan air minum (SPAM) Umbulan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin (22/3/2021). (Foto: Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)Foto: Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan sistem penyediaan air minum (SPAM) Umbulan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin (22/3/2021). (Foto: Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Kedua adalah pinjaman yang secara neto adalah negatif Rp 1,6 triliun. Turun 22,4% YoY.

"Pembiayaan utang hingga saat ini mencapai 91,5% dari target kuartal I," kata Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan, dalam jumpa pers APBN Kita edisi Maret 2021, Selasa (23/3/2021).

Bank Indonesia (BI), lanjut Sri Mulyani, juga berkontribusi dalam pembiayaan APBN yaitu dengan membeli SBN di pasar primer. Total pembelian SBN oleh BI hingga akhir Februari 2021 adalah Rp 73,88 triliun, terdiri dari Rp 45,18 triliun di Surat Utang Negara (SUN) dan Rp 28,7 triliun di Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Pembiayaan utang, tambah Sri Mulyani, memiliki tantangan baru yaitu kenaikan imbal hasil (yield). Tekanan terhadap pasar SBN datang dari sisi eksternal, yaitu kenaikan yield obligasi pemerintah AS.

"Yield SUN rupiah kita juga terpengaruh, mengalami tekanan seiring capital outflow yang menyebabkan kenaikan yield. Kita sekarang sekitar 6,77% untuk 10 tahun. Ini adalah dinamika yang harus kita terus waspadai," tegas Sri Mulyani.


[Gambas:Video CNBC]

(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading