Internasional

Thailand Rusuh, Demonstran Berupaya 'Geruduk' Istana Raja

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
22 March 2021 11:25
A riot policeman advances towards a man kneeling on the road after the dispersal of protesters who removed container vans used as a barricade in front of the Grand Palace Saturday, March 20, 2021 in Bangkok, Thailand. Thailand's student-led pro-democracy movement is holding a rally in the Thai capital, seeking to press demands that include freedom for their leaders, who are being held without bail on charges of defaming the monarchy. (AP Photo/Sakchai Lalit)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kerusuhan terjadi di dekat Istana Raja Thailand di Bangkok, akhir pekan kemarin. Setidaknya ratusan polisi dengan perlengkapan anti huru hara dilaporkan bentrok melawan 1.000 pengunjuk rasa.

Ini terjadi karena upaya pendemo anti pemerintah yang mulai mendekati istana. Reuters melaporkan polisi berupaya mendorong pendemo menjauhi tempat tinggal Raja Maha Vajiralongkorn.


"Kami akan menangkap siapa pun di jalanan," kata polisi melalui pengeras suara saat beberapa barisan polisi bergerak maju, mendorong orang mundur, dikutip Senin (22/3/2021).

Menurut Wakil Juru Bicara Polisi Kissana Pattanacharoen, aparat menggunakan perisai, pentungan, peluru karet dan gas air mata untuk menahan pengunjuk rasa. Sementara pendemo membawa batang logam dan melemparkan batu serta kelereng.

"Kami berulang kali mengeluarkan peringatan sebelum meningkatkan tanggapan kami," katanya.

Demonstrasi terjadi setelah parlemen pekan ini gagal mengesahkan RUU untuk menulis ulang konstitusi yang didukung militer. Pengadilan massal untuk para pemimpin protes dimulai minggu ini terhadap para aktivis yang dituduh menghasut dan menghina kerajaan.

"Kami menuntut demokrasi sejati dan bukan pemerintah yang mengatakan dipilih tetapi berasal dari tentara," kata seorang pria yang hanya menyebut namanya Kung.

"Dunia telah berubah dan kami menginginkan jenis monarki yang sama seperti di negara-negara Barat. "

Gerakan protes pemuda Thailand sejauh ini menjadi tantangan terbesar bagi Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha. Para pengunjuk rasa mengatakan dia merekayasa proses yang akan mempertahankan status quo politik dan membuatnya tetap berkuasa setelah pemilu 2019 meski Prayuth sendiri telah menolak tuduhan itu.

Para pengunjuk rasa juga menuntut reformasi monarki, melanggar tabu tradisional, dengan mengatakan konstitusi yang dirancang oleh militer setelah kudeta 2014 memberi raja terlalu banyak kekuasaan. Istana Kerajaan menolak untuk secara langsung mengomentari protes tersebut tetapi Prayuth dan pejabat pemerintah mengatakan bahwa kritik terhadap raja itu melanggar hukum dan tidak pantas.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading