Jokowinomics: Benci Produk Asing, Apa Bisa RI Tanpa Impor?

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
05 March 2021 15:16
[THUMB] Jokowi soal Commerce Bunuh UMKM

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Republik Indonesia Joko Widodo(Jokowi) mengatakan bahwa masyarakat Indonesia harus mencintai produk dalam negeri dan membenci produk asing. Ungkapan tersebut disampaikan oleh RI-1 setelah menerima laporan dari Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi.

Dalam sebuah konferensi yang digelar virtual, Mendag Lutfi meluruskan perkara tersebut. Presiden mengajak masyarakat untuk membenci produk asing bukanlah tanpa alasan.

Jadi begini duduk permasalahannya. Ada platform perdagangan online (e-commerce) asing yang menjual barang-barang impor ke Indonesia dengan strategi predatory pricing.


Secara sederhana strategi ini dilakukan ketika suatu perusahaan menerapkan harga yang sangat rendah untuk produknya sehingga menjadi penghalang bagi pesaingnya untuk masuk ke segmen atau pasar yang sama.

Strategi ini membuat produk-produk dalam negeri terutama untuk kategori fashion kalah saing. Padahal banyak UMKM Indonesia yang menjual berbagai barang lokal di platform e-commerce tersebut.

Dengan adanya predatory pricing, Jokowi geram karena hal ini dapat membunuh UMKM dalam negeri. Apa yang disampaikan oleh Mendag Lutfi sebenarnya tidak lepas dari laporan riset yang diterbitkan oleh institusi internasional.

Dalam sebuah tulisan lembaga internasional itu menyebut bahwa bisnis UMKM di Indonesia terutama untuk kategori fashion muslim harus tergerus karena impor produk asing yang terus menerus menggempur pasar nasional.

Bahkan Mendag Lutfi juga mencontohkan bahwa untuk produk muslim berupa Jilbab saja produk impor bisa dibanderol dengan harga yang sangat murah yakni Rp 1.900/pcs.

Tentu saja ini adalah hal yang memprihatinkan karena sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia serta memiliki industri sendiri justru tidak bisa berdikari. Setelah berita ini mencuat, warga net (netizen) pun ramai ikut memperbincangkan topik ini.

Hashtag #SyopiBunuhUMKM menggema di dunia maya. Hingga pukul 10.45 WIB ada hampir 6 ribu tweet yang diposting oleh netizen dengan hashtag #SyopiBunuhUMKM.

Pada dasarnya Indonesia juga memiliki industri untuk produk-produk berupa pakaian serta aksesoris tersebut terlepas dari segmen yang disasar. Industri ini masuk ke dalam kelompok Tekstil dan Produk Tekstil (TPT).

Kendati ekspor TPT Indonesia tergolong besar. Namun keran impor yang terbuka lebar terutama dari China membuat surplus neraca dagang TPT terus menciut dari tahun ke tahun. Sejak 2015-2018, pertumbuhan impor TPT mencapai 26% secara point to point dan 8% secara rata-rata tahunan (CAGR).

Ekspor TPT Indonesia memang tumbuh pada periode yang sama. Namun lajunya tidak setinggi impor. Dari 2015-2018, ekspor tumbuh 7% secara point to point dan 2% secara rata-rata tahunan (CAGR).Banjir impor yang terjadi membuat neraca dagang TPT Indonesia mengalami penurunan surplus dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

Pada tahun 2015 surplus neraca dagang dari TPT Indonesia tercatat sebesar US$ 4,4 miliar. Sementara pada tahun 2018, nilai tersebut turun menjadi US$ 3,2 miliar. Artinya surplus neraca dagang TPT Indonesia mengalami penurunan sebesar 27%.

Cara Agar Produk Lokal jadi Raja di Negeri Sendiri
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading