Internasional

Intelijen AS: Putra Raja Salman Dalang Pembunuhan Khashoggi

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
25 February 2021 08:06
FILE PHOTO: Saudi Arabia's Crown Prince Mohammed bin Salman Al Saud is seen during a meeting with U.N Secretary-General Antonio Guterres at the United Nations headquarters in the Manhattan borough of New York City, New York, U.S. March 27, 2018. REUTERS/Amir Levy

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden Joe Biden akan merilis laporan intelijen Amerika Serikat (AS) yang tidak diklasifikasikan mengenai kematian jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, Kamis (25/2/2021). Khashoggi merupakan kolumnis Washington Post, yang dibunuh secara mengenaskan tahun 2018 di konsulat Arab Saudi di Istanbul Turki.

CNBC International menuliskan empat orang pejabat yang mengetahui masalah ini mengatakan laporan intelijen menemukan keterlibatan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS). Mereka, yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan bahwa laporan intelijen AS menggunakan CIA sebagai kontributor utama dan menyebut MBS menyetujui dan memerintahkan pembunuhan.


Versi rahasia dari laporan itu bahkan menguak bahwa laporan sudah pernah dibeberkan ke Kongres pada akhir 2018, saat Donald Trump berkuasa. Namun pemerintahan mantan presiden Trump saat itu menolak tuntutan anggota parlemen dan kelompok hak asasi manusia (HAM) untuk merilisnya.

Trump disebut berusaha untuk menjaga kerja sama di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Trump juga mempromosikan penjualan senjata AS ke kerajaan.

Perilisan laporan intelijen itu akan menjadi langkah Biden dalam menyelaraskan kembali hubungan dengan Arab Saudi setelah AS di tangan Trump dianggap menutup mata dalam beberapa masalah Riyadh. Seperti catatan hak asasi manusia hingga perang saudara di Yaman.

Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan kepada wartawan pada Rabu (24/2/2021) bahwa Biden hanya akan berkomunikasi dengan Raja Saudi Salman bin Abdulaziz terkait hubungan kedua negara ke depan. Ia juga menyebut laporan Khashoggi sedang disiapkan untuk dirilis dan akan segera keluar.

Khashoggi (59), mengurus surat pernikahannya ke konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018. Ia kemudian dibunuh oleh tim operasi yang terkait dengan MBS, yang dianggap sebagai pemimpin de facto kerajaan saat ini.

Dilaporkan operasi itu kemudian memotong-motong tubuh Khashoggi. Jenazahnya tidak pernah ditemukan.

Riyadh akhirnya mengakui bahwa Khashoggi tewas dalam operasi ekstradisi "nakal" yang tidak beres. Tetapi Arab Saudi membantah keterlibatan Putra Mahkota.

Lima pria yang dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan tersebut diringankan menjadi 20 tahun penjara setelah diampuni oleh keluarga Khashoggi. Pengadilan juga digelar Turki.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading