Dear Warga RI, Kasus Covid-19 Sudah Tembus 1,21 Juta

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
13 February 2021 17:31
Para penumpang kereta api jarak jauh mengikuti pengambilan sempel nafas GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta (4/2/2021). Calon penumpang diminta untuk mengambil nafas melalui hidung dan membuangnya melalui mulut sebanyak tiga kali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah kasus Covid-19 pada 13 Februari 2021 bertambah sebanyak 8.844 kasus. Penambahan ini menandai capaian kasus Covid-19 di Indonesia tembus 1.210.703 kasus atau 1,21 juta kasus positif.

Sementara itu untuk pasien sembuh bertambah sebanyak 11.919 kasus. Sehingga totalnya mencapai 1.016.036 kasus sembuh.  Jumlah pasien meninggal per hari ini bertambah sebanyak 280 orang. Sehingga total pasien meninggal mencapai 32.936 orang.




Seperti sebelum-sebelumnya DKI Jakarta masih tetap memimpin pertambahan kasus positif Covid-19. Di mana pada hari bertambah sebanyak 3.018 kasus.  Disusul oleh Jawa Barat sebanyak 1.737 kasus, Jawa Tengah 763 kasus, dan Jawa Timur sebanyak 560 kasus.

Meski demikian DKI Jakarta juga memimpin jumlah kasus sembuh sebanyak 4.746 orang, disusul Jawa Barat sebanyak 2.483 orang dan Jawa Timur sebanyak 666 orang.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan akan menggunakan Rapid Diagnostic Test Antigen akan digunakan untuk Pemeriksaan Covid-19 terutama di daerah yang memiliki keterbatasan akses laboratorium RT-PCR. Penggunaan rapid test antigen ini juga akan dilakukan pada 98 kabupaten/kota yang menerapkan PPKM dengan jumlah kasus yang tinggi.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan menggunakan tes antigen untuk epidemiologi nantinya dapat berpengaruh pada catatan peningkatan kasus. Pasalnya, tes antigen bisa dilakukan secara cepat dan lebih masif dibandingkan RT-PCR, karena jumlahnya terbatas.

Nantinya akan diumumkan bersama dengan kasus aktif dari RT-PCR, sehingga kemungkinan jumlah kasus akan melonjak tajam.

"Kami ingin menyampaikan lebih awal agar masyarakat memahami mengapa penambahan kasus terjadi saat kita melakukan akselerasi testing, dengan memperbanyak tes epidemiologi kita akan semakin banyak menangkap kasus positif yang tidak ada gejala sama sekali. Masyarakat diharapkan menyikapi dengan baik artinya meningkatkan kewaspadaan dan disiplin protokol kesehatan," jelas Nadia, Rabu lalu.

Adanya penguatan dari sisi testing, tracing, dan treatment 3T diharapkan dapat memutus rantai penularan. Dia menegaskan antigen ini tidak dipungut biaya karena untuk pemeriksaan epidemiologi bukan untuk pelaku perjalanan.

"Kalau untuk pelaku perjalanan sudah jelas harus dilakukan secara mandiri," ujarnya,

Nantinya juga akan ada pelaporan penggunaan sehingga harus bisa memonitor jumlahnya untuk kasus suspek maupun kontak. Dia memperkirakan dengan penguatan antigen akan ada peningkatan kasus tanpa gejala dan gejala ringan, dengan begitu dapat mempercepat penanganan pandemi ini.

"Kalau bisa deteksi lebih dini, isolasi dini sebenarnya RS tidak terlalu berat untuk menangani kasus berat tp tetap diantisipasi 30-40% terjadi peningkatan kasus dan ini akan banyak kasus OTG atau gejala ringan jd penguatan isolasi mandiri atau terpusat," kata Nadia.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading