RI Bakal Produksi Bahan Bakar Hijau 14 Juta KL di 2030

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
10 February 2021 19:34
Pertamina Uji Coba Green Diesel di Kilang Cilacap (Dok. Pertamina)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah melakukan berbagai langkah untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM), terutama bensin (gasoline) dengan beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana mengatakan, pemerintah bakal terus mendorong pemanfaatan sawit untuk bahan bakar (biofuel) yang berkelanjutan.

Dia mengatakan, produksi bahan bakar hijau ini akan didorong melalui pengolahan minyak sawit di kilang Pertamina, baik berupa pencampuran pengolahan minyak sawit (crude palm oil/ CPO) di kilang minyak yang telah ada (co-processing) maupun pembangunan unit baru (stand alone) pengolahan minyak sawit menjadi green diesel dan green gasoline.


Pada 2030, pemerintah memperkirakan produksi bahan bakar hijau ini, baik green diesel dan green gasoline mencapai 14 juta kilo liter (kl) atau naik 65% dari jumlah saat ini yang mencapai 8,4 juta kl.

"2030 biofuel naik 50% jadi hampir 14 juta kilo liter (kl)," paparnya dalam Webinar Nasional 'Strategi Penguatan Kebijakan Pengelolaan Sawit', Rabu(10/02/2021).

Lebih lanjut dia mengatakan, Pertamina mengupayakan produksi green diesel dan green gasoline pada 2022 di Kilang Cilacap. Untuk co-processing green diesel diperkirakan mencapai 0,1 juta kl, green diesel dari pabrik pengolahan tersendiri (stand alone) 0,2 juta kl, dan green gasoline dari unit co-processing sekitar 0,1 juta kl pada 2022.

Jumlah tersebut akan meningkat pada 2030 menjadi green diesel dari kilang tersendiri naik menjadi 1,3 juta kl, dan adanya kilang terpisah yang juga memproduksi green gasoline sebesar 2 juta kl.

Adapun kapasitas produksi biodiesel dari pabrik yang telah ada saat ini mencapai 9 juta kl pada 2020 dan akan meningkat menjadi 10,4 juta kl pada 2030 mendatang.

"Akan didorong green diesel atau green gasoline, baik co-processing di kilang Pertamina yang ada sekarang di mana bakal diganti menjadi mengolah sawit dari dulunya mengolah minyak bumi, maupun kilang terpisah atau kilang terpisah atau stand alone," tuturnya.

Menurutnya, bahan baku sawit tidak seperti yang disampaikan oleh negara maju, seperti berdampak pada deforestasi, lingkungan, gambut, dan kemanusiaan.

"Bahan baku sawit tidak seperti yang disampaikan negara maju. Kita juga pastikan penggunaan siap, jangan ujug-ujugĀ (tiba-tiba) jadi masyarakat tidak yakin. Suatu saat kita akan lihat bensin sawit kita akan terus pastikan spec kualitas sesuai standar," jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan akan melakukan berbagai upaya untuk mengurangi impor BBM khususnya bensin pada tahun ini. Dia menyebutkan program bio energi menjadi kunci dalam mengurangi impor BBM.

Pertama, melalui B30 yang berasal dari CPO sawit yang akan ditingkatkan menjadi B40. Saat ini bersama Kementerian ESDM tengah melakukan kajian untuk meningkatkan B30 menjadi B40.

Secara teknis, menurutnya kilang Pertamina sudah bisa memproduksi green diesel (D100) di Kilang Dumai dan juga akan memproduksi lagi sebanyak 6.000 barel per hari (bph) di Kilang Cilacap.

"Kami juga akan membangun green refinery di Plaju, sehingga bisa menurunkan impor. Kemudian, untuk menurunkan impor gasoline atau bensin, Pertamina dan ESDM sedang uji coba GME program, jadi gasoline (bensin) dicampur dengan 15% metanol dan 5% etanol," kata Nicke, Kamis (04/02/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading