Amsyong, Penjualan Ritel RI Anjlok -19% Lebih!

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
09 February 2021 13:52
Pengunjung berbelanja di Matahari Store dikawasan Jakarta, Senin (30/11/2020). PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) menutup 6 gerainya hingga akhir tahun ini. Jumlah gerai perusahaan ritel ini akan berkurang dari 153 toko menjadi 147 toko.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penjualan ritel Indonesia pada Desember 2020 masih tumbuh negatif alias terkontraksi, bahkan lebih parah ketimbang bulan sebelumnya. Pada Januari 2021, penjualan ritel diperkirakan masih minus.

Penjualan ritel dicerminkan oleh Indeks Penjualan Riil (IPR), yang pada Desember 2020 mengalami kontraksi 19,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Lebih dalam ketimbang penurunan November 2020 yaitu 16,3%.

Secara bulanan (month-to-month/MtM), penjualan ritel pada Desember 2020 tumbuh 4,8%. Membaik dibandingkan November 2020 yang -1,2%.


"Peningkatan penjualan eceran tertinggi terjadi pada kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya serta peralatan informasi dan komunikasi. Kenaikan permintaan tidak setinggi periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga secara tahunan, kinerja penjualan eceran periode Desember 2020 mengalami kontraksi dengan pertumbuhan IPR sebesar -19,2% (yoy), lebih dalam dari -16,3% (yoy) pada bulan sebelumnya, terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta sub-kelompok sandang," jelas keterangan tertulis Bank Indonesia (BI) yang dirilis Selasa (9/2/2021).

Untuk Januari 2021, lanjut laporan BI, kinerja penjualan eceran diperkirakan turun 1,8% MtM karena aktor musiman permintaan masyarakat yang menurun usai Hri Natal Tahun Baru. Plus ada penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali, serta faktor musim/cuaca dan bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah.

Secara tahunan, kinerja penjualan eceran Januari 2021 diprakirakan membaik dengan kontraksi pertumbuhan yang lebih kecil yaitu 14,2%. Perbaikan penjualan tahunan diindikasi terjadi pada sebagian besar kelompok, terutama sub-kelompok sandang, kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta perlengkapan rumah tangga lainnya.

Dari sisi harga, demikian keterangan BI, tekanan inflasi pada 3 bulan mendatang (Maret 2021) diprakirakan relatif stabil, sementara pada 6 bulan mendatang (Juni 2021) meningkat. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 3 bulan yang akan datang sebesar 149,7, relatif stabil dibandingkan 150,4 pada bulan sebelumnya, sejalan dengan pasokan yang terjaga. Sementara itu, IEH 6 bulan yang akan datang sebesar 164,8, lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 161,7 dipengaruhi oleh ekspektasi ketersediaan barang/jasa yang berkurang dan kemungkinan gangguan distribusi.


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading