Moodys: Stimulus Gagal, Pemulihan Ekonomi RI Bakal Lebih Lama

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
05 February 2021 13:27
Suasana bantaran kali Cideng, Roxy, Jakarta Barat (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Moody's Investors Service, lembaga jasa analisis keuangan, memproyeksikan pemulihan ekonomi Indonesia akan menjadi tantangan dan kemungkinan akan berlangsung lama.

Dalam laporannya, Moody's mengatakan dalam upaya memulihkan ekonomi, pemerintah Indonesia meyakini bisa keluar dari krisis ekonomi dan kesehatan masyarakat dengan melakukan vaksinasi.

"Namun, pemerintah lambat dalam meluncurkan vaksinasi, dengan hanya bisa menargetkan vaksinasi terhadap 66% penduduk sampai tahun 2022. Jalan menuju pemulihan untuk Indonesia akan menjadi tantangan dan berlarut-larut," jelas Moody's dalam laporannya, Jumat (5/2/2021).


Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini, Jumat (5/2/2021) baru saja melaporkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada Kuartal IV-2020 mengalami kontraksi atau -2,19% (year on year/YoY).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencatatkan pertumbuhan negatif pada Kuartal IV-2020 menandakan terjadinya pertumbuhan negatif (kontraksi) dalam tiga kuartal beruntun.

Secara rinci, PDB pada Kuartal I-2020 mencapai 2,97%, terus mengalami penurunan pada Kuartal II-2020 yang mencatatkan pertumbuhan negatif -5,32%, dan terjadi sedikit perbaikan pada Kuartal III-2020 yang mencatatkan PDB mencapai -3,49%. Artinya, Indonesia masih mengalami resesi ekonomi.

Definisi umum resesi adalah kontraksi ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut. Indonesia mengalami resesi untuk pertama kali pertama sejak 1998.

Sementara pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2020 mengalami kontraksi atau dengan pertumbuhan ekonomi -2.07%, anjlok sangat dalam dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi 2019 yang tumbuh 5,02%.

"Kontraksi PDB (Indonesia) pada Kuartal-IV 2020 dan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun tidak mengherankan, karena Indonesia masih berjuang untuk mengendalikan pandemi," jelas Moody's.

Lebih lanjut, Moody's mengatakan meskipun pertumbuhan ekonomi pada Kuartal IV-2020 masih didorong dengan adanya perbaikan ekspor jika dibandingkan dengan Kuartal III-2020, tapi tidak diimbangi dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang merupakan penyumbang terbesar terhadap PDB.

Sementara, untuk dalam mendorong konsumsi telah berupaya untuk menyalurkan stimulus fiskal dalam program Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) pada 2020 sebesar Rp 695,2 triliun, namun realisasinya hanya Rp 579,8 triliun atau hanya menyerap 83,4%.

Moody's memandang penyaluran dana PC PEN juga menjadi salah satu 'kegagalan' pemerintah untuk mendorong konsumsi rumah tangga di Indonesia.

"Pemerintah mempercepat pengeluaran pada Kuartal IV-2020 untuk meningkatkan konsumsi, meskipun pada akhir tahun hanya mendistribusikan 83,4% dari alokasi stimulus," jelas Moody's.

Sebagai gambaran, Indonesia berencana melakukan vaksinasi Covid-19 kepada 181.554.465 orang untuk mencapai herd immunity. Untuk tahap pertama ini diutamakan kepada 1,53 juta tenaga kesehatan. Vaksinasi untuk kelompok ini ditargetkan selesai pada Februari 2021.

Sebelumnya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan dengan penambahan vaksinasi sekitar 50 ribu orang per hari, target vaksinasi hingga Februari dapat tercapai.

Kendati demikian, Budi mengakui pelaksanaan vaksinasi masih memiliki sejumlah kekurangan, dari data penerima vaksin hingga penyimpanan. Pihaknya pun membuka pendaftaran manual untuk menjaring tenaga kesehatan yang seharusnya terdaftar.

Dia menyampaikan sebelumnya, hanya kurang dari 20 ribu orang dalam per hari di awal vaksinasi. Angka 20 ribu hingga 50 ribu vaksinasi per hari baru tercapai di minggu kedua, setelah dilakukan pendataan secara manual. Sebelumnya pendaftaran sulit dilakukan karena ada masalah pada aplikasi, hingga akhirnya dilakukan secara manual.

Hingga Kamis (04/02/2021) pukul 14:00 total sudah ada 700.266 orang tenaga kesehatan yang telah menerima vaksinasi Covid-19 tahap pertama. Sementara ada 96.553 orang tenaga kesehatan yang telah menerima vaksinasi tahap kedua.

Artinya masih ada 24 hari lagi untuk mengejar vaksinasi bagi 866.693 tenaga kesehatan untuk tahap pertama, dan masih ada 1.470.406 orang untuk tahap kedua. Sementara itu masih ada hampir 30.000 orang tenaga kesehatan, tepatnya 29.738 orang yang belum melakukan registrasi ulang.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading