Mobil Made in Indonesia Banjiri Pasar, Filipina Siap Melawan!

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
12 January 2021 15:40
Mobil ekspor di pelabuhan IPCC, Tanjung Priok. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Langkah Pemerintah Filipina yang mengenakan safeguard berupa bea masuk tindakan pengamanan perdagangan sementara (BMTPs) terhadap produk mobil impor akan berdampak bagi Indonesia. Pasalnya, Indonesia menjadi negara yang mengekspor mobilnya dengan angka besar ke Filipina.

"Sangat besar, ekspor di dua tahun terakhir yang masuk ke Filipina paling besar dari Indonesia. Dari Indonesia nomor satu, kedua baru Thailand," kata Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia GAIKINDO Jongkie Sugiarto kepada CNBC Indonesia, Selasa (12/1/21).

Filipina memang menjadi pasar empuk bagi pabrikan mobil Indonesia. Tahun 2019 lalu saja jumlah mobil yang berhasil tercatat sebagai ekspor mencapai 86 ribu kendaraan. Daihatsu, Toyota, Mitsubishi Motors, Suzuki, Honda menjadi  5 eksportir terbesar, kemudian diikuti Isuzu, Wuling maupun Hyundai.


Namun, ketika rencana Filipina safeguard itu mencuat, maka ekspor dan produksi mobil dari Indonesia berpotensi bakal terganggu. Hal ini juga yang menjadi kekhawatiran para produsen.

Namun, Yohannes menilai Filipina harus mengikuti aturan bersama yakni The ASEAN Free Trade Area (AFTA), dimana salah satu aturannya adalah soal impor-ekspor mobil.

"Kalau volume (ekspor ke Filipina) menurun pasti produksi menurun. Tapi ini sangat awal, jadi kita menjajaki sehingga hambatan tersebut tidak terjadi dan kita bisa ekspor mobil karena semua sudah diatur AFTA dan Filipina sudah mengikuti aturan tersebut," kata Komisaris PT Isuzu Astra Motor Indonesia itu.

Melalui aturan baru, importir mobil harus memberi jaminan tunai senilai P70.000 atau setara dengan Rp20,2 juta per mobil penumpang impor, serta P110.000 atau setara dengan Rp31,8 juta per mobil niaga ringan.

Namun aturan ini tidak berlaku bagi kendaraan penumpang dengan nilai free on board di aras US$ 25 ribu serta kendaraan ringan komersial dengan nilai di atas US$ 28 ribu, termasuk kendaraan kegunaan khusus maupun Semi-Knocked Down (SKD) serta Completely Knock Down (CKD).

Pemerintah Filipina mengambil langkah ekstrim terkait bea masuk (safeguard) mobil impor. Negara lumbung padi itu mengenakan bea masuk untuk mobil penumpang dan Light Commercial Vehicle (LCV) atau kendaraan niaga mulai 5 Januari lalu hingga 200 hari berikutnya.

Selama rentang waktu tersebut, Komisi Tarif Filipina akan melakukan penyelidikan formal yang akan menentukan apakah ada manfaat untuk memberlakukan tindakan pengamanan secara definitif atau tidak. Sebagai salah satu negara utama eksportir mobil ke Filipina, Indonesia akan sangat terdampak dalam hal penjualan, hal serupa akan menimpa Thailand.

"Filipina memiliki salah satu pasar paling terbuka dibandingkan dengan tetangga ASEAN kita. Meskipun kami secara umum tidak membatasi produk yang masuk ke pasar, kami juga perlu memastikan level playing field untuk industri lokal kami," kata Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Ramon M. Lopez, seperti dikutip dari Manilla Bulletin, Selasa (12/1/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading