Kisah Boeing 737: Mesin Uang Hingga Nasib Suram Seri 737 MAX

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
10 January 2021 20:40
Boeing 737 Max dapat kembali mengudara setelah Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mengeluarkan izin pada Rabu (18/11/2020). (AP/Ted S. Warren)

Jakarta, CNBC Indonesia - Musibah yang menimpa pesawat Boeing 737-500 milik Sriwijaya Air pada Sabtu (9/1/2021) tak pelak menghadirkan duka yang mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia. Apalagi, kecelakaan ini hanya berselang kurang dari tiga tahun dari kecelakaan yang melibatkan pesawat Boeing 737 Max milik Lion Air pada 29 Oktober 2018.

Bicara soal Boeing seri 737, pesawat ini memperoleh begitu banyak julukan antara lain Baby Boeing, Light Twin, Guppy, Bobby, Rudder Rotor, Fat Freddy, dan Dung Beetle.

Sudah lebih dari 50 tahun setelah penerbangan perdana, Boeing 737 merupakan pesawat yang paling sukses yang pernah dibuat perseroan. Namun, masa depan pesawat ini belakangan menjadi tidak pasti.

Boeing 737 pertama kali diluncurkan pada 17 Januari 1967 dan tiga bulan kemudian terbang untuk pertama kalinya. Boeing 737 kemudian dipesan oleh 17 maskapai penerbangan dari berbagai negara.

Maskapai penerbangan Jerman, Lufthansa, menerima versi produksi pesawat Boeing yang dikenal sebagai 737-100. Tahun itu menandai pertama kalinya pesawat Boeing diluncurkan oleh maskapai penerbangan di Eropa.



Kemudian United Airlines menerima Boeing 737 pertama pada hari berikutnya, dengan versi 737-200, yang memiliki kapasitas penumpang lebih banyak. Seri itu terbukti lebih populer dari seri sebelumnya.

"Pada awalnya, 737 adalah pesawat yang sangat kuat dan sangat andal," kata Graham Simons, sejarawan penerbangan dan penulis buku 'Boeing 737: Jetliner Komersial Paling Kontroversial di Dunia', melansir CNN dan dikutip CNBC Indonesia, Minggu (10/1/2021).

Beberapa seri Boeing 737 kala itu, kata Simons, juga bahkan bisa mendarat di jalur kerikil di sebuah perlintasan udara di Kanada Utara.

"Beberapa perusahaan charter Eropa, pada peak season, menerbangkannya selama 18-20 jam sehari tanpa masalah," kata Simons melanjutkan.

Dibandingkan dengan dua jet Boeing sebelumnya, pesawat bermesin empat 707 dan 727 bermesin tiga, Boeing 737 merupakan pesawat yang lebih kecil dan lebih ekonomis.

"Anda bisa mengisi bahan bakar pesawat dari belakang tanpa mesin khusus. Ini juga lebih mudah untuk mengisi bahan bakar, karena sayapnya lebih rendah ke tanah," kata Simons.

"Dan tidak memerlukan tangga eksternal untuk akses penumpang. Sebaliknya, ada tangga udara yang keluar dari bawah pintu dan diturunkan. Semua itu dapat mengurangi waktu penyelesaian di bandara utama dari sekitar 90 menjadi 40 menit. Sangat menghemat," lanjutnya.


Boeing 737 adalah mesin uang dan kegagalan Boeing 737 Max
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading