Beralih ke Mobil Listrik, Impor BBM Turun Ratusan Ribu Barel!

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
05 January 2021 11:55
Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) resmi menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan dinas untuk pertama kalinya. Hari ini, Selasa (29/12) PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) secara resmi menyerahkan tiga unit mobil listrik kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil atau yang akrab disapa Kang Emil. Ketiga mobil tersebut adalah 2 unit IONIQ Electric dan 1 unit KONA Electric. (Dok: Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) terus digencarkan oleh pemerintah. Salah satu tujuannya adalah menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang saat ini hampir separuhnya dipenuhi dengan impor.

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto mengatakan, dampak dari pemanfaatan mobil listrik bisa dirasakan mulai tahun ini, meski jumlah pengurangan impor BBM masih sekitar ribuan barel per hari.


"Dampaknya mulai 2021 akan mengurangi impor BBM ribuan barel per hari," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (05/01/2021).

Namun demikian, dia mengatakan, bila pemakaian mobil listrik ini semakin meningkat, maka impor BBM pun akan terus berkurang dari tahun ke tahun. Pada 2025 menurutnya impor BBM bisa ditekan sampai 37.000 barel per hari (bph). Lalu, pada 2030 kembali bisa ditekan sampai ke posisi 77.000 bph.

"Dan impor BBM bisa berkurang sampai 300 ribu barel per hari di tahun 2040," tegasnya.

Lebih lanjut Djoko menyampaikan, selain menekan impor BBM, penggunaan kendaraan listrik juga akan berdampak baik pada lingkungan. Dia menyebut, lingkungan akan menjadi bersih dari polusi, sehingga masyarakat bisa hidup lebih sehat.

"Juga memenuhi Paris Agreement yang telah diteken Presiden untuk mengurangi pemanasan global," jelasnya.

Lalu dari sisi keuangan negara, menurutnya dengan beralihnya masyarakat ke kendaraan listrik, maka subsidi pada BBM bisa ditekan secara signifikan, sehingga menghemat miliaran devisa.

"Rata-rata penghematan subsidi bisa Rp 600 miliar per tahun," tuturnya.

Sebelumnya, Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan hal senada. Menurutnya, kendaraan listrik memberikan keuntungan pada negara yakni menekan impor BBM. Hal ini dikarenakan selama ini kebutuhan BBM nasional sebesar 1,3-1,5 juta barel per hari (bph), separuhnya masih dipenuhi oleh impor.

"BBM kan berbasis impor, maka perlu adanya pola pengalihan konsumsi energi dari yang berbasis impor ke energi domestik," paparnya, Senin (04/01/2020) dalam wawancara bersama CNBC Indonesia.

Selain itu, penggunaan kendaraan listrik menurutnya juga lebih ramah lingkungan dibandingkan kendaraan berbasis BBM.

Dia menjelaskan, emisi yang dikeluarkan oleh satu liter bensin mencapai 2,4 kg karbon dioksida. Itu sejajar dengan 1,3 kWh listrik yang emisinya menurutnya hanya separuhnya, yakni 1,2 kg CO2.

"Di tambah emisinya ada di pembangkit kami, yang kami sudah ada kendali terhadap lingkungannya. Emisi terhadap lingkungan berkurang 50%. Artinya, bahwa perubahan mobil BBM ke listrik itu dari sisi impor BBM juga jadi lebih murah dan juga ramah lingkungan," tuturnya.

Berdasarkan data dari Dewan Energi Nasional, disebutkan Grand Strategi Energi Nasional untuk 2030 yakni :

1. Kilang minyak tambahan: 1 baru dan 4 pengembangan (produksi solar disesuaikan dengan kebutuhan)
2. BBG: 440 ribu kendaraan, 257 unit kapal, butuh insentif penyesuaian harga BBG
3. KBLBB: 2 juta mobil dan 13 juta motor, butuh insentif pembebasan pajak 10 tahun
4. Biofuel: mempertahankan B30 dan mengoptimalkan produksi BBN (biodiesel atau biohidrokarbon)
5. Penghematan devisa (2021-2024) sebesar US$ 16,8 miliar per tahun.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading