Internasional

Awas, 'Torpedo' Trump Meluncur ke China di Laut China Selatan

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
04 December 2020 08:34
FILE - In this April 3, 2020, file photo, the USS Theodore Roosevelt, a Nimitz-class nuclear powered aircraft carrier, is docked along Kilo Wharf of Naval Base Guam. The U.S. Navy says that after weeks of work, all of the roughly 4,800 sailors on the coronavirus-stricken USS Theodore Roosevelt aircraft carrier have been tested for the virus. The ship has been sidelined in Guam since March 27, moving sailors ashore, testing them and isolating them for nearly a month.(Rick Cruz/The Pacific Daily via AP, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar belum selesai menghadapi China. Meski pergantian ke presiden baru akan segera dilakukan Januari 2021, namun sanksi dan hukuman terus digulirkan ke Negeri Xi Jinping.

Terbaru, melansir Reuters, administrasi Trump secara resmi menambahkan raksasa minyak China, China National Offshore Oil Corp (CNOOC), di daftar hitam, Kamis (3/12/2020). Artinya, investor AS, akan 'haram' menanamkan uangnya di perusahaan migas terbesar ketiga China itu.




Bersama CNOOC ada tiga perusahaan lain yang dikenai sanksi. Yakni Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC), China Construction Technology Co Ltd dan China International Engineering Consulting Corp.

CNOOC dianggap di-backing oleh militer China, PLA. Padahal tercatat di Bursa Hong Kong, investor AS memegang 16,5% saham perusahaan ini.



CNOOC juga mengoperasikan beberapa ladang migas AS dan bertindak sebagai mitra untuk perusahaan energi besar seperti Exxon Mobil. Mereka akan dipaksa untuk divestasi paling tidak hingga akhir 2021. Dengan ini ada total 35 perusahaan China yang di blacklist AS.

Melansir Asia Times, ini menjadi 'torpedo' baru yang diluncurkan Trump ke China, terutama di Laut China Selatan (LCS). Kedua negara, diketahui tegang di perairan tersebut karena klaim 80% wilayah oleh China.

CNOOC kemungkinan menjadi sasaran karena keterlibatannya dalam kegiatan eksplorasi energi China di perairan LCS, yang diperebutkan China dan sekutu AS, seperti Filipina. Pasalnya Trump tidak mengejar dua perusahaan minyak China lain, yakni China National Petroleum Corp dan China Petrochemical Corp (Sinopec).

Sanksi terbaru pemerintahan Trump terhadap raksasa energi China adalah bagian dari upaya yang lebih luas oleh AS dan sekutunya mencegah Beijing mengambil sumber daya energi berharga di wilayah maritim yang diperebutkan.

"Dugaan saya adalah CNOOC yang menjadi sasaran, dan bukan CNPC atau Sinopec, karena pengeborannya di wilayah Laut China Selatan, yang dianggap sebagai tindakan militer oleh AS," kata pakar China Lin Boqiang dalam sebuah wawancara televisi

Dalam beberapa tahun terakhir, CNOOC telah terlibat dalam negosiasi kontroversial vis-à-vis dengan Filipina. Padahal Pengadilan Arbitrase pada tahun 2016 telah menolak klaim China di LCS Filipina.

Filipina disebut dipaksa menghentikan eksplorasi energi secara mandiri dan diminta masuk ke skema bersma dengan perusahaan China, seperti CNOOC. AS mengklaim ini taktik intimidasi China untuk mengembangkan sumber energi guna kepentingan sendiri.

"Beijing telah menggunakan intimidasi untuk mencoba menghentikan negara-negara (Asia Tenggara) dari mengeksploitasi sumber daya lepas pantai, memblokir akses ke US$ 2,5 triliun cadangan minyak dan gas saja," kata Penasihat Keamanan Nasional AS Robert O'Brien selama kunjungannya di bulan November ke Bangkok.

Trump sendiri sejak pertengahan 2020 telah mendeklarasikan akan menentang China di LCS. Selain ini, sejumlah sanksi lain juga diterapkan Trump ke perusahaan China termasuk aturan yang bisa mendepak Alibaba CS dari Wall Street.


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading