Sepenting Apa Penyelamatan UMKM di Krisis Pandemi?
Jakarta, CNBC Indonesia - Tidak seperti tahun 1998 tatkala korporasi bertumbangan sementara usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) bertahan, krisis pandemi 2020 justru memukul UMKM. Apa yang salah tahun ini?
UMKM bisa dibilang sebagai perusahaan gurem, dengan aset likuid Rp 50 juta-Rp 10 miliar atau omzet Rp 300 juta- Rp 500 miliar. Namun, kiprahnya tidak bisa diabaikan dalam perekonomian global dengan menyumbang separuh Produk Domestik Bruto (PDB), menurut Bank Dunia.
Dengan demikian, dari PDB dunia yang mencapai US$ 84,8 triliun pada 2018, maka US$ 42,4 triliun di antaranya disumbang oleh UMKM. Sumbangan usaha kecil tersebut setara dengan gabungan PDB Amerika Serikat (AS), China, Jepang, dan Jerman.
Sebagai informasi, nilai PDB Indonesia saja "hanya" US$ 1 triliun. Oleh karenanya, bisa dibayangkan besar dan signifikannya peran UMKM dalam roda perekonomian dunia. Sektor ini terbukti lebih tahan krisis 1998 dibandingkan korporasi besar, sehingga diyakini menjadi sokoguru alis tulang punggung ekonomi karena menyumbang 70% lapangan kerja di dunia.
Namun tahun ini kondisi sebaliknya terjadi. Ketika virus Covid-19 menyerang dan mengganggu aktivitas masyarakat, UMKM berguguran sementara korporasi relatif bertahan. Separuh PDB dunia itu terkikis, sehingga lebih dari 40 negara di dunia memasuki resesi, termasuk Indonesia.
Survei Organisasi Buruh Internasional (International Labor Organization/ILO) yang dipublikasikan dalam laporan berjudul "ILO SCORE Global Covid-19 Enterprise Survey" menunjukkan bahwa UMKM mengalami tekanan lebih besar dari periode yang pernah mereka hadapi.
Dari 1.000 perusahaan yang disurvei ILO di delapan negara dari seluruh benua, 70% di antaranya melaporkan penghentian operasi. Dari jumlah tersebut, 50% di antaranya menutup bisnis secara sementara karena mengikuti aturan dari pemerintah setempat, sedangkan 50% lainnya karena anjloknya permintaan atau karena adanya kasus Covid-19.
Lebih dari 75% UKM mengalami atau mengekspektasikan penurunan permintaan sepanjang 2020. Dalam beberapa kasus, penurunan pendapatan terhitung sangat tinggi. Satu dari tiga pelaku UKM mengantisipasi pendapatan mereka anjlok separuh, dan berharap situasi membaik.
Kabar buruknya, Indonesia dan Pakistan menjadi dua negara paling pesimistis dengan lebih dari 80% responden memperkirakan bahwa dampak buruk pandemi akan dirasakan sepanjang 2020.
Foto: Sumber: ILO