Pekerja menyelesaikan pembuatan pakaian di industri rumahan kawasan Jakarta, Selasa. Industri rumahan masih berjibaku dengan berbagai polemik yang memicu sepi pesanan. Kondisi ini membuat pemutusan hubungan kerja massal terus terjadi. Â (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Sebelumnya, Industri rumahan bisa memproduksi sebanyak 3000 lusin celana anak-anak dalam setahun, kini hanya bisa membuat 1000 lusin. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Hal ini berpengaruh dengan bahan yang digunakan terus mengalami kenaikan dan ongkos produksinya pun semakin tinggi. Â (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Salah satu pekerja menejelaskan "sekarang produksi pakaian anak-anak itu sulit, bahan yang kita gunakan naik terus sedangkan model (fashion) terus berkembang" terangnya saat berbincang dengan CNBC Indonesia. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Pantauan CNBC Indonesia dari beberapa mesin jahit hanya ada satu pekerja yang menyelesaikan pembuatan celana anak-anak di ruangan tersebut. Menurut pemilik rumah produksi tersebut saat ini hanya mengerjakan pesanan pelanggan saja mulai dari celana pendek dan panjang ukuran anak-anak. "Saat ini produksi sedikit saja dan untuk pesanan pelanggan, paling hanya 100pcs" tutupnya kepada CNBC Indonesia.(CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Seperti diketahui, home industri konveksi yang ada di kawasan Jakarta rata-rata mempekerjakan 10 sampai 15 orang pekerja yang notabene juga pekerja berpendidikan rendah atau putus sekolah. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
elain mengeluhkan persoalan modal usaha, para pengusaha konveksi pun mempersoalkan maraknya pakai-pakaian import bekas yang banyak beredar di pasaran, sehingga produk mereka kurang laku karena kalah bersaing dari pakaian import bekas tersebut. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)