Gak Cuma DME & Jargas, Program Ini Pun Bisa Kurangi Impor LPG

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
24 November 2020 20:15
Proses pengolahan biogas di peternakan sapi milik Pondok Pesantren Assyafaat, Depok, Jawa Barat, Kamis (5/9).  Dalam sehari kotoran sapi yang dihabiskan mencapai 25-30kg, untuk memenuhi kebutuhan memasak di peternakan tersebut. Untuk menghasilkan biogas dari kotoran sapi, Pak syarif melakukan persiapan seperti menghitung kebutuhan energi, menentukan model digester, membuat filter gas, membuat bahan baku isian. Semua itu harus harus dipenuhi agar dapat memproduksi biogas secara efisien dan hemat. Cara kerja biodigester untuk menghasilkan gas metan adalah sebagai berikut. Pertama, kotoran sapi dialirkan dari kandang ke kolam melalui got atau pipa. Kemudian kotoran sapi itu dicampur air dengan perbandingan 1:1 guna mengencerkan kotoran. Lalu, kotoran itu dimasukkan ke dalam reaktor berbentuk bulat untuk difermentasi, hingga mengeluarkan gas metan. Jika dikalkulasikan, ia dapat menghemat Rp 300 ribu per bulan.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia masih kecanduan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) karena kebutuhan di dalam negeri terus meningkat, sementara pasokan di dalam negeri stagnan.

Beberapa upaya dilakukan pemerintah untuk menekan impor LPG, seperti proyek gasifikasi batu bara yang akan menghasilkan Dimethyl Ether (DME) maupun program pembangunan jaringan pipa gas atau yang biasa disebut jargas.

Namun tahukah Anda, ternyata ada program lain yang juga bisa berkontribusi menekan impor LPG, yakni pemanfaatan biogas.


Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (BTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andriah Feby Misna mengatakan program biogas ke depannya diharapkan dapat berkontribusi dalam penurunan impor LPG meski kini jumlahnya masih sangat kecil.

"Pengembangan biogas ini diharapkan nantinya berkontribusi dalam penurunan impor dari LPG, mengingat saat ini defisit neraca perdagangan cukup besar dan ditengarai berasal dari impor BBM dan impor LPG," tuturnya dalam acara Indonesia EBTKE ConEx 2020, Selasa (24/11/2020).

Dia mengatakan saat ini biogas masih dikembangkan dalam skala rumah tangga. Kini pemerintah menurutnya sudah membangun sekitar 47 ribu unit biogas untuk rumah tangga yang tersebar di 31 provinsi. Adapun pendanaannya berasal dari pemerintah pusat (APBN), pemerintah daerah (APBD), alokasi khusus, dari donor, dan pihak-pihak swasta.

Untuk biogas komunal, menurutnya telah dibangun 13 unit di pesantren di 10 provinsi.

"Saat ini yang kami kembangkan adalah program biogas skala rumah tangga, kemudian program biogas komunal, dan juga bio-CNG dan ini juga program yang baru dikembangkan di Indonesia," ungkapnya.

Berdasarkan riset tim CNBC Indonesia, impor LPG melesat 19,52% per tahun (CAGR) dari 960 ribu ton pada 2009 menjadi 5,71 juta ton pada 2019. Pada tahun ini impor LPG bahkan diperkirakan naik menjadi 6,84 juta ton, dan akan terus meningkat menjadi 10,01 juta ton pada 2024.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading