Jokowi Minta Setop Ekspor Batu Bara, Simak Tren Ekspornya!

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
23 October 2020 13:22
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas kabinet pada pagi ini, Jumat (23/10/2020) meminta jajarannya untuk serius mengakhiri ekspor komoditas mentah strategis, terutama batu bara.

Presiden Jokowi menginginkan agar komoditas tambang ini bernilai tambah terlebih dahulu sebelum diekspor.

"Kita sudah lama sekali mengekspor batu bara mentah ini. Saya kira memang harus segera diakhiri," kata Jokowi saat memimpin rapat terbatas dengan topik pembahasan percepatan peningkatan nilai tambah batu bara melalui video conference di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (23/10/2020).


Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan juga mengungkapkan rencana pemerintah untuk mengurangi ekspor batu bara karena akan lebih banyak dimanfaatkan di dalam negeri untuk kegiatan hilirisasi. Dengan demikian, batu bara juga menjadi komoditas bernilai tambah.

Dia mengatakan, batu bara akan diubah menjadi sejumlah produk seperti methanol yang dapat dijadikan campuran untuk biodiesel (Fatty Acid Methyl Esters/ FAME), lalu Dimethyl Ether (DME) yang bisa digunakan sebagai substitusi LPG.

"Batu bara Indonesia saat ini lebih banyak diekspor. Kita juga ingin mengubahnya, meng-convertnya juga agar kita punya nilai tambah jadi DME, methanol, dan lain-lain. Produk turunan bernilai tambah 2-3 kali," tuturnya dalam acara INDY FEST 2020 dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-20 PT Indika Energy Tbk yang ditayangkan dalam kanal YouTube Netmediatama kemarin, Senin (19/10/2020).

Lantas, berapakah jumlah ekspor batu bara RI selama beberapa tahun terakhir? Berdasarkan data Minerba One Data Indonesia (MODI) yang dipublikasikan Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sejak 2015 ekspor batu bara Indonesia telah mencapai di atas 300 juta ton per tahun.

Porsi ekspor batu bara terhadap produksi selama 2015-2019 berada di kisaran 60%-80% per tahun.

Berikut data ekspor dan produksi batu bara selama 2015-2019, dikutip dari MODI Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM pada Jumat (23/10/2020):

(dalam satuan Juta Ton)

TahunProduksiEksporDomestik
2019616,16454.50138,42
2018557,77356,39155,08
2017461,36286,9497,03
2016456,17331,3791
2015461,29365,7586

[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading