Sri Mulyani Tolak Pajak 0% Mobil Baru, Pengusaha Happy?

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
20 October 2020 09:23
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Konfrensi Pers APBN KiTa ( Tangkapan Layar Youtube Ministry of Finance Republic of Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kalangan pengusaha mobil bekas akhirnya bisa 'tertawa lepas' karena Menteri Keuangan Sri Mulyani akhirnya resmi menyatakan enggan memberi pajak 0% pada mobil baru.

Mereka menilai, jika sampai diberikan maka yang hanya diuntungkan hanyalah pabrik mobil yang notabene berasal dari perusahaan asing.

Sementara pedagang mobil bekas dari dalam negeri hanya akan gigit jari, karena harga unit yang sudah menjadi stoknya bakal jatuh hancur-hancuran.


"Efeknya lebih banyak mudhorat daripada manfaatnya. Manfaat yang diuntungin cuma pabrik. Mereka mau jual stok yang sudah mereka bikin. Gimana caranya stok mereka kejual, itu tujuannya, tapi menghancurkan yang sudah ada, yang exist," kata pemilik Nava Sukses Motor yang berada di Jl. Madrasah No. 23, Cilandak, Jakarta Selatan, Fahmi kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (20/10).

Penjualan mobil bekas memang sempat terancam, utamanya kala lobi-lobi dilancarkan industri atau pabrik mobil ke Kementerian Perindustrian.

Pada akhirnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengakui sudah mengajukan relaksasi pajak mobil.

Sayang, akibat tidak ada keputusan dalam rentang yang lama, penjualan mobil terganggu. Masyarakat banyak yang menahan pembelian, termasuk ke mobil baru.

Fahmi melanjutkan, ada ketidakadilan mengingat pabrik-pabrik besar pada saat merugi teriak-teriak meminta insentif pajak 0%.

"Akhirnya kan jadi senjata makan tuan. Tadinya mau untung akhirnya tambah buntung. Mobil seken aja kena corona wajar rugi, ngga bisa dihindari. Sekarang mereka pabrik-pabrik gede giliran rugi teriak-teriak minta di 0%in. Kemarin-kemarin jualan berapa juta unit tiap tahun, untung gede diem-diem aja," sebutnya.

"Jangan terlalu [mendukung] ke investor-investor gede. Biasa mereka kan ngancem mau PHK (pemutusan hubungan kerja), tutup pabrik, relokasi. Biasa, tapi ngga usah takut. Indonesia market gede. Sekarang jual mobil dimana sih yang enak. Kan penduduk kita berapa. Mereka pindah rugi juga, tetep aja jualannya di Indonesia," kata Fahmi.

Ia menilai tidak mungkin pabrikan mobil Jepang akan minggat dari Indonesia. Kala penjualan rugi atau bahkan masih untung dengan nilai berkurang, maka itu sangat wajar. Pemerintah punya daya tawar kuat karena segmentasi pasar yang dimiliki Indonesia sangat besar.

"Ngga mungkin mereka ninggalin. Kalau mereka ninggalin, yang ada dimakan China. Mobil-mobil Toyota hengkang, dia (China) semua masuk kesini. Jepang kan market gedenya Indonesia. Diemin aja pinter-pinter (lobi) mereka aja," lanjutnya.

Sementara itu, Sekjen Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara menanggapi santai pernyataan Sri Mulyani tersebut. Ia menegaskan Gaikindo masih menunggu pernyataan resmi terhadap usulan tersebut.

"Jangan terburu-buru kan belum ada kebijakan keluar," kata Kukuh kepada CNBC Indonesia, Senin (19/10).

Ia mengatakan Gaikindo masih menunggu respons resmi pemerintah soal usulan pajak 0%. Meski ia tak tahu sudah sampai mana pembahasan usulan pajak 0% tersebut, antara kementerian perindustrian dan kemenkeu.

"Kita tidak bekerja berdasarkan sinyal. Bagi kami yang penting kepastian apa keputusannya," katanya saat ditanya apakah pernyataan Sri Mulyani sebagai indikasi kuat bahwa usulan pajak 0% dipastikan ditolak.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, pemerintah tidak akan memberikan pembebasan pajak bagi pembelian mobil baru. Setidaknya untuk saat ini tidak rencana dan pembahasan mengenai hal tersebut.

"Kita tidak mempertimbangkan saat ini untuk memberikan pajak mobil baru sebesar 0% seperti yang disampaikan oleh industri dan Kementerian Perindustrian," ujar Sri Mulyani melalui video conference, Senin (19/10/2020).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading