Vaksinasi November, Pengusaha Pede Ekonomi Segera Menggeliat

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
14 October 2020 16:30
FILE - In this Monday, March 16, 2020 file photo, a patient receives a shot in the first-stage study of a potential vaccine for COVID-19, the disease caused by the new coronavirus, at the Kaiser Permanente Washington Health Research Institute in Seattle. On Friday, March 20, 2020, The Associated Press reported on stories circulating online incorrectly asserting that the first person to receive the experimental vaccine is a crisis actor. All participants who volunteered for the test were screened and had to meet a set list of criteria. They were not hired as actors to simulate a role. (AP Photo/Ted S. Warren)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana Pemerintah yang bakal menyebarkan vaksin pada bulan November mendatang disambut positif oleh pelaku usaha di berbagai sektor.

Di antaranya Wakil Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bidang Restoran Emil Arifin. Ia menilai gerak masyarakat bakal lebih bebas setelah distribusi vaksin tersebut berjalan secara luas.

"Artinya bagus. Mungkin ekonomi bakal mulai menggeliat November nanti. Mudah-mudahan," katanya kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/10).


Namun, Ia mengaku sulit memperkirakan berapa lama waktu yang diperlukan agar kondisi bisa mengarah menuju normal. Pasalnya, baik dari pelaku usaha maupun masyarakat sama-sama sedang 'luka'. Saat daya beli masyarakat belum pulih, sementara pengusaha harus memutar otak agar bisa mendapatkan kembali modalnya.

"Kalau ke mal bagus seperti PIM, Sency, Gandaria City itu aja kosong. Orang-orang ke situ kan yang punya duit. Jadi hilang demand, either dia emang takut datang atau emang prihatin. Banyak ketidakjelasan yang itu membuat masyarakat lebih baik nggak kemana-kemana atau nggak ngapa-ngapain. Terbukti tabungan di Bank naik. Dia melihat nggak jelas ke depannya," sebut Emil.

Demi memulihkan demand, peran vaksin sangat diperlukan. Namun, Ia menggarisbawahi bahwa vaksin tersebut harus sesuai dengan standar mutu yang berlaku. Jika ada isu yang tidak baik, justru bisa menjadi bumerang bagi proses pemulihan ekonomi dan kesehatan.

"Kabar baik asal jangan ada kabar jelek. Jangan sampai misal malah kasus. Atau jangan sampai vaksin ini ternyata membuat orang banyak yang malah sakit atau apa. Itu bahaya," jelasnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Dewan Pembina Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Antonius Joenoes Supit. Ia berharap vaksin yang ditemukan banyak mengubah perilaku masyarakat saat ini, termasuk kebebasan mobilitas yang lebih baik.

"Kalau sudah ada vaksin, bagi orang yang belum terkena penyakit itu nggak terlalu khawatir nanti akan terjangkit. Sehingga pergerakan ekonomi lebih longgar. Memang satu-satunya cara dapat vaksin agar lebih baik sehingga dunia berjalan normal," kata Anton.

Kemenkes memastikan vaksinasi tahap awal di Indonesia sudah bisa dimulai pertengahan November 2020. "Data-data uji klinis sudah ada dan akan ditransfer, BPOM Indonesia akan membuat kajian [berdasarkan] transfer data untuk kemudian memberikan emergency use. Isyaallah akan dapat 100 ribu dosis di minggu ketiga November, artinya sudah jadi tinggal suntikkan. CanSino single dosis, jadi cuma satu kali," jelas Achmad Yurianto kepada CNBC Indonesia, Selasa (13/10/2020).

Jumlah orang Indonesia yang divaksin pada November bisa bertambah lagi. Pasalnya, Kementerian Bidang Koordinasi dan Investasi mengungkapkan G42/Sinopharm berkomitmen mengirimkan 5 juta dosis pada November dan Sinovac 1,5 juta dosis.

Vaksin Sinovac dan G42/Sinopharm menggunakan dua dosis vaksin per orang. Artinya akan ada 3,25 juta orang yang mendapatkan vaksin dari Sinovac dan Sinopharm. Secara total akan ada 3,35 juta penduduk Indonesia yang akan divaksinasi pada November.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading