Aduh Biyung! Ada Bukti Baru RI Sedang Mengidap Resesi...

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
08 October 2020 11:28
Banyaknya ruko yang buka dilantai Dasar Blok B9 menjadi tandanya ramai jual beli para pedagang, ketika menelusuri lebih dalam lagi hanya beberapa pembeli saja yang keluar masuk mall Thamrin City, Jakarta Pusat. Diakuinya, sebagai pedagang grosir pakain dewasa, Andri tidak bisa meraup keuntungan yang besar seperti tahun-tahun sebelumnya. “Keuntungan yang kami peroleh paling cuma 5%. Beda dengan keuntungannya dengan tahun sebelumnya deh,” katanya.

Kelesuan penjual pakain jadi ini juga di alami Iwan (40 tahun). Pemilik Toko Nadira, Blok C3 Lantai 3 Thamrin City ini menyatakan omset tokonya mengalami penurunan yang tajam pada tahun ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Satu lagi gejala penurunan daya beli rakyat Indonesia terbukti. Ini semakin menegaskan bahwa Indonesia tengah berkubang di 'lumpur' resesi.

Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan ritel yang dicerminkan dari Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Agustus 2020 tumbuh negatif 9,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Membaik dibandingkan Juli 2020 yang terkontraksiĀ 12,3% YoY.

Pada September 2020, BI memperkirakan IPRĀ masih mengalami kontraksi 7,3% YoY. Jika terwujud, maka penjualan ritel akan terkontraksi selama 10 bulan beruntun. Nyaris setahun...



Penjualan ritel adalah salah satu indikator awalan (leading indicator) yang bisa menerawang arah gerak ekonomi ke depan. Jika terus turun, maka bisa disimpulkan bahwa ekonomi sedang lesu, masyarakat ogah berbelanja.

Sementara konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50% terhadap output perekonomian atau Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Jadi kala si penyumbang utama sedang seret, maka PDB secara keseluruhan akan ikut mampet.

Data penjualan ritel semakin memberi konfirmasi ke arah sana. Sebelumnya sudah ada data Indeks Harga Konsumen (IHK), di mana Indonesia membukukan deflasi selama tiga bulan beruntun. Deflasi kini menjadi cerminan kelesuan daya beli, yang membuat dunia usaha tidak berani menaikkan harga.

Kemudian ada ada Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), yang masih saja di bawah 100. Angka di bawah 100 menunjukkan konsumen pesimistis memandang kondisi perekonomian saat ini dan beberapa bulan ke depan sehingga memilih menahan konsumsi.

Kapan Indonesia Bisa Bangkit?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading