Walau Kini Daya Beli Hancur Lebur Tapi Tak Separah Krismon

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
01 October 2020 15:28
Ilustrasi ritel diskon. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia kembali mengalami deflasi 0,05% di bulan September, setelah sebelumnya juga mengalami deflasi di bulan Juli dan Agustus 2020.

Merujuk data BPS, deflasi pada bulan Juli tercatat sebesar 0,10%, pada bulan Agustus deflasi sebesar 0,05%, sementara pada September deflasi 0,05%.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan deflasi yang terjadi selama periode Juli, Agustus, dan September ini menandakan daya beli masyarakat Indonesia masih sangat lemah.

"Karena terjadi deflasi berturut-turut, artinya triwulan III daya beli masih sangat rendah," kata Suhariyanto dalam video conference, Kamis (1/10/2020).

Namun, deflasi yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut ini, tidak separah yang pernah terjadi saat Indonesia mengalami krisis di tahun 1999.

Pada 1999, Indonesia bahkan mengalami deflasi selama 7 bulan berturut-turut, sejak Maret hingga September.

"Deflasi berturut-turut pernah terjadi pada tahun 1999. Pada waktu itu terjadi deflasi pada Maret hingga September, tahun 1999 itu deflasi berturut-turut selama 7 bulan," jelasnya.

Adapun deflasi yang terjadi di September 2020 dikarenakan adanya penurunan dari 4 kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi 0,37%, pakaian dan alas kaki sebesar 0,01%.

Deflasi juga disumbangkan karena adanya penurunan harga tarif transportasi, dimana kelompok transportasi mengalami deflasi 0,33%, dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar 0,01%.

Pelemahan daya beli masyarakat Indonesia juga terlihat dari inflasi inti yang hanya 1,89% di September 2020. Bahkan, inflasi inti di September menjadi yang paling rendah sepanjang BPS bersama Bank Indonesia melakukan perhitungan pada tahun 2004.

"Jadi yang diwaspadai adalah inflasi inti terus menurun sejak Maret, tadi inflasi intinya 1,86% itu rendah, menunjukkan daya beli kita masih sangat-sangat lemah," ungkapnya.



[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading