Internasional

Thailand Membara 'Dibakar' Demo, Masihkah Primadona Investor?

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
22 September 2020 08:00
Police officers wearing face masks stand in line, protecting the area surrounding the Grand Palace during during a protest in Bangkok, Thailand, Sunday, Sept. 20, 2020. The mass student-led rally that began Saturday is the largest in a series of protests this year, with thousands camping overnight near the royal palace, demanding for new elections and reform of the monarchy.(AP Photo/Wason Wanichakorn)

Jakarta, CNBC Indonesia - Negeri Gajah Putih Thailand saat ini menghadapi situasi yang rumit. Selain pandemi Covid-19 yang membuat Negeri Seribu Pagoda itu jatuh ke jurang resesi, aksi gelombang demonstrasi para pelajar juga mengepung pemerintah negara tersebut.

Sejarah mencatat kondisi perpolitikan Thailand memang penuh intrik dan gejolak. Kali ini unjuk rasa para mahasiswa dan pelajar sekolah menengah itu dipicu oleh putusan pengadilan untuk membubarkan partai pro-demokrasi Februari lalu.

Melansir BBC, Future Forward Party (FFP) terbukti sangat populer di kalangan pemilih muda yang baru pertama kali dan memperoleh bagian kursi parlemen terbesar ketiga dalam pemilu Maret tahun lalu yang dimenangkan oleh kepemimpinan militer sebagai petahana.


Aksi protes kembali terjadi pada bulan Juni ketika aktivis pro-demokrasi terkemuka Wanchalearm Satsaksit hilang di Kamboja, tempat dia berada dalam pengasingan sejak kudeta militer 2014.

Gelombang demonstrasi terus terjadi. Hingga minggu lalu lebih dari 30.000 peserta demo turun ke jalan raya mendesak  Perdana Menteri Jenderal Prayut Chan-o-cha mundur dan menerapkan konstitusi baru. 

Demo juga kembali menuntut pembatasan pada kekuasaan Raja Thailand Maha Vajiralongkorn. Sang Raja, tulis AFP, dianggap tak hadir di negeri itu saat ekonomi anjlok karena pandemi. Raja yang banyak menghabiskan waktu lama di Eropa menimbulkan kemarahan warga di media sosial dalam beberapa bulan terakhir.

Protes yang sudah terjadi dalam dua bulan terakhir ini merupakan yang terbesar sejak 2014 ketika Thailand mengalami resesi yang sangat parah. Ekonomi Negeri Lumbung Padi ASEAN itu terkontraksi dua kuartal berturut-turut.

Pada triwulan kedua, output perekonomian menyusut 12,2% dan jadi penurunan paling tajam dalam 22 tahun terakhir. Maklum, di kala pandemi Covid-19 seperti ini permintaan global yang anjlok serta penurunan aktivitas pariwisata membuat ekonomi Thailand yang dua pertiganya ditopang ekspor itu porak-poranda.

Padahal pandemi Covid-19 di satu sisi juga memberikan peluang untuk negara-negara di kawasan Asia Tenggara terutama dalam hal menggaet investor asing untuk mau menanamkan modalnya ke wilayah yang terkenal jadi primadona pemilik modal global. 

Rantai pasok global yang terlalu China sentris membuktikan bahwa ketika terjadi guncangan (shock) seperti pandemi membuat risiko yang ditanggung oleh investor sangatlah besar, sehingga perlu melakukan diversifikasi portofolio investasinya secara geografis.

Asia Tenggara pun digadang-gadang sebagai salah satu kawasan di mana para investor akan merelokasi pabriknya dari China. Thailand awalnya termasuk negara yang bisa dibilang paling dilirik.

Namun instabilitas politik yang tengah terjadi tentu menjadi faktor penghambat mimpi mendatangkan modal dari luar itu terwujud. Pasalnya kondisi internal seperti stabilitas politik merupakan pertimbangan para pemilik modal untuk menanamkan uangnya ke suatu negara. 

Jika melihat lima tahun ke belakang sebenarnya Thailand bisa dibilang memiliki performa yang baik dalam mendatangkan investor asing ke negaranya. Hal ini dapat terlihat dari total penanaman modal asing (FDI) Thailand yang tumbuh 14% per tahunnya (CAGR), lebih tinggi dibandingkan beberapa negara ASEAN-6 lain.

Thailand Primadona Investor Juga Lho
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading