42 Negara Resesi, Makau Paling Parah Karena 'Kecanduan' Judi

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
30 August 2020 06:40
Warga Prancis terapkan penggunaan masker di tempat umum. (AP/Michel Euler)

Jakarta, CNBC Indonesia - Satu demi satu negara mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020. Namun bukan tumbuh, yang ada semakin banyak yang mengkerut.

Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) membuat pemerintah di hampir seluruh negara menerapkan kebijakan pembatasan sosial (social distancing). Demi menekan risiko penyebaran virus yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China ini, sebisa mungkin manusia berjarak satu dengan lainnya.

Atas nama social distancing, berbagai aktivitas dan tempat yang dapat memunculkan kerumunan manusia ditutup sementara. Kantor, pabrik, sekolah, restoran, pusat perbelanjaan, tempat pariwisata, rumah ibadah, dan sebagainya tidak diizinkan untuk menampung manusia dalam jumlah seperti hari-hari biasa. Bahkan pintu masuk negara pun belum dibuka sepenuhnya, untuk menghindari risiko imported case.


Social distancing mungkin efektif untuk menekan jumlah pasien dan korban jiwa. Namun biaya yang harus dibayar sama sekali tidak murah. Roda ekonomi bergerak sangat perlahan, bahkan mungkin berhenti sama sekali.

Puncak social distancing di banyak negara terjadi pada kuartal II-2020. Kala itu, miliaran penduduk dunia terpaksa #dirumahaja. Bekerja, belajar, dan beribadah di rumah.

Hasilnya jelas, output ekonomi yang dicerminkan oleh Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami pertumbuhan negatif alias kontraksi. Ukuran ekonomi menyusut.

Apabila kontraksi terjadi dalam dua kuartal beruntun, maka itu namanya resesi. Semakin banyak negara yang mengalaminya. Berdasarkan rangkuman Trading Economics, sudah ada 42 negara yang mengidap resesi.


Tak Ada yang Main Judi, Ekonomi Makau Berantakan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading