Defisit APBN 2021 Turun, Apakah Pak Jokowi Mulai Ngerem?

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
14 August 2020 15:33
Presiden RI Jokowi di Sidang Tahunan MPR RI (Tangkapan Layar Youtube)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi menyampaikan pengantar Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021. Penanganan pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) masih menjadi tema utama kebijakan fiskal tahun depan.

"Rancangan kebijakan APBN 2021 diarahkan untuk pertama mempercepat pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19; kedua, mendorong reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas, inovasi, dan daya saing ekonomi; ketiga, mempercepat transformasi ekonomi menuju era digital; serta keempat, pemanfaatan dan antisipasi perubahan demografi," sebut Jokowi dalam pidato di gedung DPR/MPR, hari ini.

Berikut asumsi makro yang diajukan pemerintah untuk RAPBN 2021:


  1. Pertumbuhan ekonomi 4,5-5,5%.
  2. Inflasi 3%.
  3. Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) Rp 14.600/US$.
  4. Suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun 7,29%.
  5. Harga minyak Indonesia (ICP) US$ 45/barel.
  6. Lifting minyak 705.000 barel/hari.
  7. Lifting gas bumi 1,007 juta barel/hari.

Sekilas perkiraan pertumbuhan ekonomi 4,5-5,5% terlihat 'wah'. Apalagi kalau melihat tahun ini, di mana pada kuartal II-2020 ekonomi nasional terkontraksi (tumbuh negatif) -5,32%.

Namun jangan lupa ada yang namanya efek basis dasar (base effect). Seperti sudah disinggung, ekonomi tahun ini boleh dibilang hancur sehancur-hancurnya akibat wabah virus corona. Jadi saat ekonomi membaik sedikit saja, maka pertumbuhannya menjadi signifikan.

Begitu pula dengan inflasi. Tahun ini, inflasi sangat rendah, bahkan hingga Juli inflasi tahun kalender belum menyentuh 1%. So saat inflasi menanjak sedikit saja, lajunya menjadi terakselerasi.

Kemudian nilai tukar rupiah. Pada 2020, rupiah bergerak bak roller coaster. Kadang ada tren di mana rupiah mampu menguat berhari-hari, tetapi ada kalanya mata uang Ibu Pertiwi amblas dalam waktu yang relatif panjang.

Namun kalau melihat rata-rata kurs sepanjang 2020 hingga hari ini, nilainya adalah Rp 14.744,88/US$. Artinya, tahun depan ada peluang rupiah menguat meski tidak bisa terlalu banyak.

Sementara rata-rata imbal hasil (yield) SBN 10 tahun diperkirakan 7,29% pada 2021. Dibandingkan dengan rata-rata 2020 sampai hari ini yang sebesar 7,33%.

Penurunan yield menandakan harga SBN bergerak naik. Artinya, situasi pasar keuangan pada 2021 diperkirakan relatif membaik pada 2021. Mungkin ini pula yang mendasari proyeksi rupiah bisa sedikit menguat tahun depan.

Defisit APBN Mengecil
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading