Internasional

Berebut Minyak, Erdogan Siap Perang Lawan Yunani & Prancis?

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
14 August 2020 12:15
In this photo provided by the Turkish Defense Ministry, Turkey's research vessel, Oruc Reis, in red and white, is surrounded by Turkish navy vessels as it was heading in the west of Antalya on the Mediterranean, Turkey, Monday, Aug 10, 2020. Tension remains high between Greece and Turkey, whose warships are in the eastern Mediterranean where Turkey has sent a research vessel to carry out seismic research for energy resources in an area Greece says is on its continental shelf. (Turkish Defense Ministry via AP, Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan ancaman bagi pihak manapun yang berani mengganggu kapal Oruc Reis yang sedang melakukan survei untuk menemukan sumber minyak di perairan Mediterania timur yang disengketakan.

Erdogan bahkan mengatakan salah satu balasan untuk pengganggu sudah dilakukan.

"Kami mengatakan bahwa jika Anda menyerang Oruc Reis kami, Anda akan membayar mahal, dan mereka mendapat jawaban pertama hari ini," kata Erdogan dalam pidatonya di Ankara, Kamis (13/8/2020). Namun ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.


Kapal Oruc Reis telah dikirim ke perairan Mediterania pada hari Senin dengan pengawalan militer untuk mengeksplorasi minyak dan gas di perairan antara Kreta sampai Siprus. Wilayah ini sama-sama diklaim oleh Turki dan Yunani.

Langkah itu pun akhirnya membuat ketegangan di Mediterania timur meningkat tajam. Yunani bahkan telah secara gamblang menyebut langkah Turki sebagai tindakan ilegal.

Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Prancis akan meningkatkan kehadiran militernya di wilayah tersebut dan meminta Turki untuk menghentikan pekerjaan eksplorasinya. Pasukan Prancis dan Yunani juga telah mengadakan latihan militer di luar Kreta pada Kamis.

Menteri luar negeri Uni Eropa, yang telah menjatuhkan sanksi pada dua eksekutif energi Turki atas operasi Turki di Mediterania timur, mengatakan akan membahas masalah itu pada Jumat.

"Menteri Nikos Dendias akan memberi pengarahan kepada rekan-rekan Uni Eropa tentang fakta nyata dari beberapa hari terakhir mengenai operasi di kawasan pada pertemuan darurat," kata Kementerian Luar Negeri Yunani, mengutip Reuters.

Sementara itu, menurut kantor Erdogan, pemimpin Turki itu telah berbicara melalui telepon dengan Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Dewan Uni Eropa Charles Michel mengenai masalah tersebut.

"Dia menegaskan kembali komitmennya untuk membela hak-hak Turki dari upaya untuk mengabaikannya," kata kantor Erdogan.

Sebagai salah satu bentuk mencari solusi, minggu ini Turki dan Yunani telah mengatakan mereka bersedia menyelesaikan perselisihan atas klaim maritim mereka yang tumpang tindih. Namun, kedua negara sama-sama tidak ingin mengalah dan mengatakan akan melindungi kepentingan mereka masing-masing.

"Jika kita bertindak dengan akal sehat dan nalar, kita dapat menemukan solusi bersama yang menguntungkan yang memenuhi kepentingan semua orang," kata Erdogan pada Kamis pagi. "Kami tidak mengejar petualangan yang tidak perlu atau mencari ketegangan."

Erdogan juga melayangkan kritik pada Prancis yang dianggapnya mencampuri urusannya dengan Yunani. "Yunani telah didorong untuk mengambil langkah yang salah di wilayah tersebut oleh negara yang bahkan tidak memiliki pantai di Mediterania timur." kata Erdogan.


[Gambas:Video CNBC]

(res)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading