Internasional

Ekonomi Negeri Erdogan Tumbang, Turki Di Ambang Resesi

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
13 August 2020 09:03
A supporters of Turkish President Tayyip Erdogan holds his picture in front of a Turkish flag, in front of Turkey's ruling AK Party (AKP) headquarters in Istanbul,Turkey, June 24, 2018. REUTERS/Goran Tomasevic      TPX IMAGES OF THE DAY

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi Turki mengalami keruntuhan dan disebut berada di ambang resesi yang berpotensi menghancurkan. Nilai lira Turki telah melemah menjadi 7,30 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan bank sentral telah menghabiskan US$ 65 miliar (Rp 955,8 triliun) untuk menopang mata uang tersebut menurut bank investasi AS Goldman Sachs.


Utang konsumen, sementara itu, telah meningkat 25% menjadi lebih dari US$ 100 miliar dalam tiga bulan terakhir. Peningkatan signifikan terjadi dikarenakan pemerintah banyak meluncurkan stimulus untuk membantu warganya yang terdampak pandemi virus corona (Covid-19).


Sayangnya, bantuan itu juga membuat inflasi negara melonjak hingga 12%.
 Dengan pelemahan nilai lira dan kenaikan harga barang-barang impor, standar hidup banyak orang Turki yang mendapatkan penghasilan dalam bentuk lira tetapi memiliki hutang dolar, telah turun tajam.


Perekonomian Turki telah diperkirakan terkontraksi sekitar 4% tahun ini. Tingkat pengangguran resmi tetap di 12,8% karena negara itu melarang pemutusan hubungan kerja (PHK), meskipun banyak ahli mengatakan angka sebenarnya jauh lebih tinggi.

Di sisi lain, pendapatan pariwisata dan ekspor Turki juga telah dihancurkan oleh pandemi, dan modal asing telah banyak yang keluar di tengah kekhawatiran soal tren ekonomi dan independensi bank sentral negara itu.


Menurut Wolfango Piccoli dari Teneo Intelligence di London, Turki harus menaikkan suku bunga untuk meredam dampak buruk di ekonominya. Namun hal itu tampaknya sulit terwujud, mengingat Erdogan memiliki pandangan kuat bahwa menaikkan suku bunga akan berarti inflasi. Meski banyak bukti yang menunjukkan sebaliknya.

"Ini tidak mungkin terjadi." katanya, sebagaimana dilaporkan Arab News, Kamis (13/8/2020).

Lebih lanjut, Piccoli mengatakan pejabat bank sentral akan berusaha untuk menghindari kenaikan suku bunga langsung pada pertemuan kebijakan moneter mereka pada 20 Agustus.

"Campuran devaluasi terkendali dan kebijakan yang tidak biasa, seperti membatasi likuiditas lira Turki, tetap menjadi pendekatan yang mereka sukai," katanya.

Sebelumnya Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, sempat berkomentar,termasuk soal rontoknya mata uang lira.

"Ini hal-hal sementara. Fluktuasi seperti itu selalu terjadi," ujarnya dikutip AFP pekan lalu."Semuanya akan membaik."



Ia optimis Turki akan lebih kuat. "Hari ini kami lebih kuat dari kemarin dan besok kami akan menjadi lebih kuat," katanya lagi.

Pada 2019, Turki sudah mengalami resesi. Aktivitas ekonomi memburuk dua kuartal berturut-turut, inflasi tinggi dan lira melemah.

Namun di kuartal I 2020, secara basis tahunan (YoY) ekonomi tumbuh positif 4,5%. Meski Turki hendak bangkit, virus corona (Covid-19) menyerang negara itu.

Ini membuat penguncian di sejumlah wilayah yang mengancam ekonomi. Turki kini mencatat 244.392 kasus secara akumulatif, dengan 5.891 kematian dan 227.089 sembuh.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading