Inggris Resesi, Tapi Kenapa Pasar Seolah Tak Peduli?

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
12 August 2020 14:37
A man reads a newspaper with the headline: 'PM in intensive care', outside St Thomas' Hospital in central London as British Prime Minister Boris Johnson is in intensive care fighting the coronavirus in London, Tuesday, April 7, 2020. Johnson was admitted to St Thomas' hospital in central London on Sunday after his coronavirus symptoms persisted for 10 days. Having been in hospital for tests and observation, his doctors advised that he be admitted to intensive care on Monday evening. The new coronavirus causes mild or moderate symptoms for most people, but for some, especially older adults and people with existing health problems, it can cause more severe illness or death.(AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Jakarta, CNBC Indonesia - Seperti yang sudah diduga sebelumnya, ekonomi Inggris pada kuartal II-2020 mengalami pertumbuhan negatif alias kontraksi. Bahkan kontraksinya sangat dalam.

Pada April-Juni 2020, output perekonomian atau Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris terkontraksi -21,7% year-on-year (YoY). Ini menjadi catatan terendah dalam sejarah modern Negeri John Bull.


Seperti halnya Amerika Serikat (AS), Jepang, Hong Kong, Filipina, dan banyak negara lainnya, Inggris sudah resmi masuk zona resesi. Ini karena pada kuartal sebelumnya PDB mengkerut -1,6% YoY.

Meski ekonomi membukukan kinerja terburuk sepanjang sejarah dan terjadi resesi, tetapi sepertinya pelaku pasar sudah memasukkannya dalam kalkulasi alias priced-in. Bahkan angka kontraksi kuartal III-2020 yang diumumkan lebih rendah dari konsensus pasar yang dihimpun Reuters dengan proyeksi -22,4% YoY.

Oleh karena itu, bursa saham Inggris sepertinya akan menapaki jalur hijau alias menguat. Pada pukul 13:32 WIB, futures indeks FTSE 100 di London menguat 0,19%.

Data Kuartal II Sudah Jadul
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading