Ini Strategisnya 'Harta Karun' RI Bernama Biodiesel

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
05 August 2020 16:14
Menteri Pertanian Amran Sulaiman melakukan pengisian bahan bakar biodiesel B100 di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (15/4/2019). Biodiesel yang berasal dari Crude Palm Oil (CPO) ini harapannya dapat dipergunakan secara umum di masyarakat. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri sawit khususnya turunannya sangat strategis bagi Indonesia terutama dalam pengembangan biodiesel. Selain bisa menyelamatkan harga minyak sawit, juga menopang ekonomi 16 juta petani hingga menciptakan kemandirian energi, bisa menghemat devisa dari ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM)/minyak mentah.

"Program biodisel ini sangat strategis sekali dalam rangka mendukung keberlanjutan sawit nasional. Bayangkan seandainya kelebihan pasokan dalam negeri yang tidak terserap melalui program biodiesel tadi akan terjadi over stock dampaknya turunkan harga, secara berlanjut akan berdampak pada pendapatan petani prinsipnya itu," kata Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Eddy Abdurrahman  dalam Exclusive Interview oleh CNBC Indonesia yang bertajuk "Biodisel Pascapandemi Covid-19 pekan lalu.

Ia mengatakan pemikiran ini lah yang melahirkan pembentukan BPDPKS yang tugasnya mendukung program biodiesel dalam bentuk berikan dana selisih antara harga biodiesel dengan harga solar. Tujuannya agar ada stabilisasi harga dengan ada dukungan produksi minyak sawit yang tidak sepenuhnya serap pangsa ekspor dan dalam negeri, sekarang ini bisa diserap sebagian untuk produksi biodiesel.


"Tugasnya adalah itu agar biodisel jalan agar bisa menyerap pasokan produksi minyak sawit tadi sehingga bisa stabilkan harga," katanya.

Ia menegaskan sisi lain dari pengembangan 'harta karun" biodiesel adalah program kelapa sawit berkelanjutan. Eddy bilang sebelum tahun 2015 gejolak harga crude palm oil (CPO)/minyak sawit mentah begitu tinggi sekali sampai US$ 920 per ton. Namun, pada 2015 justru harga CPO turun tajam sehingga merugikan petani dan pelaku industri sawit.

"Kemudian oleh karena itu pemerintah punya inisiatif bagaimana supaya produksi minyak sawit yang selalu meningkat tapi serapannya tidak bisa sepenuhnya diserap karena diserap ekspor 60-70% sisanya 30-40% di dalam negeri," katanya.

Eddy menjelaskan sebelumnya permintaan terhadap minyak sawit di dalam negeri konvensional untuk keperluan makanan dan oliochemical yang cenderung stagnan.

"Jadi dari 30-40% dari produksi sawit yang stay di dalam negeri tadi kira-kira 50% hanya bisa di serap industri makanan dan oliochemical, sehingga ada sisa stok di dalam negeri yang belum terserap, ini yang sebabkan harga sawit cenderung turun," katanya.

Sehingga pada 2015 pemerintah mengambil inisiatif ini harus diciptakan suatu permintaan di dalam negeri dengan namanya program biodiesel. Pada saat itu juga dibentuk BPDPKS, yang menghimpun dana dari pelaku sawit dan menyalurkannya untuk keperluan industri sawit.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading