Internasional

Siapa Putra Mahkota Arab yang Dituding Membunuh Khashoggi?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
14 July 2020 11:57
FILE PHOTO: Saudi Arabia's Crown Prince Mohammed bin Salman attends the opening of the G20 leaders summit in Buenos Aires, Argentina November 30, 2018. REUTERS/Sergio Moraes/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Putra Raja Salman, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) dituding sebagai tersangka utama pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di Istanbul, Turki pada 2018 lalu.

Tudingan tersebut bahkan datang dari salah satu pejabat Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Agnès Callamard. Aktivis perempuan itu merupakan orang yang ditugaskan PBB untuk melakukan penyelidikan khusus kasus pembunuhan Khashoggi.



Namun, siapakah Pangeran MBS?


Pemilik nama lengkap Mohammed bin Salman bin Abdulaziz bin Abdul Rahman bin Faisal bin Turki bin Abdullah bin Mohammed bin Saud ini lahir di Riyadh pada 31 Agustus 1985 silam.

Ia adalah putra Raja Salman dari pasangan ketiganya, Fahda binti Falah bin Sultan bin Hathleen, yang merupakan seorang cucu dari kepala suku Al Ajman, Rakan bin Hithalayn.

Pangeran Mohammed bin Salman adalah si sulung di antara anak-anak ibunya. Saudara kandungnya adalah Turki bin Salman, mantan ketua Kelompok Penelitian dan Pemasaran Saudi, dan Khalid bin Salman.

Setelah mendapat gelar sarjana hukum dari King Saud University, Pangeran MBS menikah dengan Princess Sarah bint Mashhoor bin Abdulaziz Al Saud pada 2008 dan dikaruniai empat anak, yakni, Pangeran Salman bin Mohammed, Pangeran Mashhur bin Mohammed, Princess Fahda bint Mohammed, dan Princess Noura bint Mohammed.

Meski baru berusia 34 tahun, Putra Mahkota ini memegang beberapa posisi penting di kerajaan Arab Saudi. Ia kini menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri (gelar perdana menteri dipegang oleh Raja Salman).



Pangeran MBS juga memegang posisi Menteri Pertahanan Arab Saudi, menjadi orang termuda yang menjabat posisi ini, dan Ketua Dewan Urusan Ekonomi dan Pembangunan.

Pada 2017, ia diangkat sebagai putra mahkota setelah Raja Salman memutuskan untuk untuk mengeluarkan Muhammad bin Nayef dari semua posisi, menjadikan Mohammed bin Salman ditunjuk sebagai pewaris takhta kerajaan tersebut.

Ayah dari empat anak ini juga berhasil memimpin beberapa reformasi, seperti peraturan yang membatasi kekuasaan polisi agama, penghapusan larangan terhadap pengemudi perempuan pada 2018, dan melemahkan sistem wali laki-laki pada 2019.

Selain itu, pemerintahan Pangeran Mohammed juga berhasil menggelar konser publik Saudi pertama dengan penyanyi wanita, stadion olahraga Saudi pertama yang menerima wanita, dan menambah kuota wanita lebih banyak dalam sebuah pekerjaan.

Program visinya pada 2030 jelas, yakni untuk mendiversifikasi ekonomi Saudi melalui investasi di sektor non-minyak termasuk teknologi dan pariwisata. Maka tak heran jika ia membuka negara itu bagi wisatawan internasional dengan memperkenalkan sistem e-visa, dan memungkinkan visa asing untuk diterapkan dan dikeluarkan melalui Internet.

Terlepas dari pujian atas langkahnya menuju liberalisasi sosial dan ekonomi Arab Saudi, komentator internasional dan kelompok hak asasi manusia telah secara terbuka mengkritik kepemimpinannya.

Pangeran MBS diduga melakukan penyiksaan terhadap aktivis HAM, melakukan pembomannya di Yaman yang menyebabkan 13 juta warga sipil kelaparan, eskalasi krisis diplomatik Qatar, memulai sengketa Lebanon-Arab Saudi, dan memulai pertikaian diplomatik dengan Kanada.

Ia juga melakukan penangkapan anggota keluarga kerajaan Saudi pada bulan November 2017, bertindak secara keras terhadap feminis, dan terakhir ia dituding menjadi otak dari pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Para pengkritiknya menggambarkan ia sebagai sebagai pemimpin otokratis. Tanpa toleransi untuk perbedaan pendapat terhadapnya atau keluarga kerajaan Saudi.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading