Dampak Covid-19

Department Store Makin Suram: Orang Prioritas Isi Perut!

News - Ferry Sandi , CNBC Indonesia
01 July 2020 14:37
Foto: Dok. SOGO Department Store Foto: Foto: Dok. SOGO Department Store

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri ritel fashion masih belum bisa berlari kencang setelah kebijakan pembukaan mal atau pusat perbelanjaan dilonggarkan pemerintah. Hingga kini, sejumlah sektor ritel fashion macam department store masih terpuruk di tengah pandemi covid-19.

Salah satunya terlihat jelas kala emiten peritel fashion, PT Mitra Adiperkasa Tbk membukukan laba bersih dengan catatan ambles 94% menjadi Rp 8,08 miliar pada kuartal I-2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp 138,26 miliar.

Anggota Dewan Penasihat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Tutum Rahanta menilai anjloknya pendapatan industri ritel tidak bisa dihindari apalagi di sektor ritel fashion.


"Itu urutan ke sekian dari kepentingan keperluan masyarakat. Kita biasa sebut produk sekunder, umumnya situasi belum normal atau masyarakat belum bisa kelebihan uang banyak, jadi prioritas ke isi perut (konsumsi)," kata Tutum kepada CNBC Indonesia, Rabu (1/7).

Kondisi ini belum bisa diketahui berjalan sampai kapan. Bila semakin lama, maka potensi meraup untung akan semakin kecil, sehingga perusahaan kian terjepit dengan keadaan. Namun, Tutum yakin ke depan kondisi bisa lebih baik untuk sektor ritel fashion.

"Dari hari ke hari pasti ada perbaikan. Mobil sudah berhenti mau dorong nggak bisa langsung kenceng. Tenaga ada dulu, tambah dorong lagi. Seberapa cepat ini selesai ya kita liat aja," katanya.

Kondisi MAP seperti menjadi gambaran dari perusahaan ritel secara keseluruhan. Berdasarkan data laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan pengelola gerai Sogo, Seibu, Galeries Lafayette, The FoodHall, Zara, dan Marks & Spencer ini sebetulnya masih mencatatkan kenaikan pendapatan menjadi Rp 4,71 triliun dari sebelumnya Rp 4,68 triliun.

Hanya saja, beban keuangan masih bengkak menjadi Rp 139,62 miliar dari sebelumnya hanya Rp 62,23 miliar dan adanya rugi selisih kurs Rp 19,57 miliar dari sebelumnya rugi kurs Rp 6,7 miliar. Belum lagi ditambah adanya rugi entitas asosiasi Rp 11,55 miliar.

Pendapatan terbesar dari penjualan eceran dan grosir mencapai Rp 4,42 triliun dari sebelumnya Rp 4,36 triliun.


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading