Bos Pertamina Blak-Blakan Bahayanya Proyek Kilang Aramco

News - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
30 June 2020 08:45
Kilang Cilacap merupakan salah satu kilang minyak terbesar di Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana kerja sama PT Pertamina (Persero) dengan perusahaan minyak asal Arab Saudi, Saudi Aramco batal untuk pembangunan proyek peningkatan kapasitas kilang Cilacap.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengungkapkan bahaya bila kerja sama ini dilanjutkan. Ini karena ada perbedaan valuasi nilai proyek antara Pertamina dengan Saudi Aramco.

"Jadi permasalahannya dari perbedaan valuasi. Bagaimana valuasi menilai dari eksisting kilang Cilacap ini ada perbedaan harga US$ 1,1 miliar. Itu kalau dibandingkan dengan nilai buku, itu kan aset BUMN," kata Nicke.


"Jadi itu tidak mungkin kita bisa lepas karena di bawah nilai buku yang angkanya sebesar itu tentu akan bahaya. Oleh karena itu kita sepakat untuk tidak sepakat. Jadi kita putus pisah baik-baik di akhir April," tegas Nicke di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (29/6/2020).

Rencana kerja sama Pertamina dengan Aramco dilakukan sejak 2014. Proyek ini ditujukan untuk peningkatan kapasitas Kilang Cilacap dari 348 ribu barel ke 400 ribu barel per hari. Saudi Aramco menjanjikan investasi hingga US$ 6 miliar atau setara Rp 87 triliun saat itu. Janji ini tidak gratis, tentu saja dengan syarat harus mendapat berbagai insentif dari pemerintah, mulai dari tax holiday, lahan, hingga pasokan kilang dari minyak mereka.

Saat ini, ujar Nicke, Pertamina sedang menjajaki dua investor yang serius bekerjasama menggarap proyek kilang Cilacap.

"Ada beberapa lagi yang sedang approach, ya kita akan lakukan proses pemilihan lagi. Tapi kemudian tetap kita lakukan juga untuk early work. Karena yang wajib atau mandatory kita lakukan adalah meningkatkan dari (kualitas BBM) dari euro 2 ke euro minimum euro 4 lah. Itu yang bisa diterima dari lingkungan," papar Nicke.

Di sisi lain, Pertamina tetap menggarap sejumlah proyek kilang minyak. Lewat pembangunan kilang ini, Pertamina ingin Indonesia menurunkan impor BBM. Selain itu, kilang minyak juga akan didesain agar Indonesia tidak bergantung minyak impor dari satu negara saja.

Nicke Widyawati mengatakan soal rencana Pertamina membangun kilang Balikpapan. Kilang ini akan didesain bisa mengolah minyak mentah dari sejumlah negara, tak hanya bergantung dari satu negara seperti Arab Saudi saja.

Tujuannya, agar tidak ada negara yang bisa mengatur-atur harga minyak ke Indonesia, karena Indonesia hanya bisa mengolah minyak mentah dari negara tersebut.

Jadi selain membangun kilang, Pertamina juga akan membangun terminal stok minyak mentah (crude), yang nantinya bisa mencampur minyak mentah dari sejumlah negara untuk diolah di kilang.

"Dengan adanya crude terminal ini, kita bisa beli dari negara manapun kita campur nanti. Sesuai dengan kilang. Jadi tidak ada yang kemudian mengatur kita lagi. Karena spesifikasi dari kilang RDMP Balikpapan ini adalah spesifikasi fleksibilitasnya sangat luas, bisa mengolah crude dari negara mana pun," papar Nicke.

Spesifikasi kilang Balikpapan ini berbeda dengan kilang Cilacap yang didesain hanya bisa mengolah minyak mentah dari Saudi Aramco.

"Nah ini (Balikpapan) kita sekarang karena terbuka kita buatkan konsepnya blending. Jadi kita bangun crude terminal yang besar, di situ kita bangun blending facillity, sehingga dari mana pun masuk kita blending saja, malah lebih bagus karena nanti menghasilkan cash margin yang lebih baik bagi kilang kita," jelas Nicke.

Meski begitu, Nicke memastikan proyek Kilang Bontang batal dikerjakan. Ia mengaku sudah melakukan evaluasi terhadap daftar pembangunan kilang.

"Kita bangun kilang dan upgrade itu kita hitung lagi. Sebelumnya ada enam kan, empat upgrade dan dua bangun baru. Ini kita koreksi. Kita hanya bangun 1 kilang baru dengan upgrade 4 kilang existing. Yang baru Tuban. Bontang kita tidak," kata Nicke Widyawati.

Dikatakan pembatalan ini disesuaikan dengan merosotnya permintaan. Hanya saja, kilang-kilang lain masih bakal dikerjakan Pertamina.

Pembatalan tersebut juga merupakan konsekuensi dari tidak dilanjutkannya kerja sama dengan perusahaan migas asal Oman, yakni Oman Overseas Oil and Gas (OAG). Kendati demikian, Nicke menyebut Pertamina masih ada kerja sama lain dengan OAG.

"Dengan OOG kan juga mundur juga kan. Jadi ini sesuai demand yang ada. Kita membangun nggak cuma kilang, tapi integrasi juga sama sama petrochemical," tandasnya.

Kilang Bontang sebelumnya adalah bagian dari enam mega proyek Pertamina yang terdiri dari empat pengembangan kilang eksisting yakni Refinery Development Master Plan (RDMP) serta dua kilang baru Grass Root Refinery (GRR) Tuban dan Bontang.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Putus sama Aramco, Mampukah Pertamina Bangun Kilang Sendiri?


(hoi/hoi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading