BI Ramal Inflasi Juni Rendah, Daya Beli Memang Lemah...

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
22 June 2020 11:57
Pasar CSuasana Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Ibu Kota berdampak pada aktivitas di pasar Jaya salah satunya, di kawasan Pasar Cijantung, Jakarta Timur. 16/6/20, CNBC Indonesia/Tri Susilo

Pantauan CNBC Indonesia dilapangan pada Selasa (16/6/20) mencoba menelusuri seluruh isi pasar, tampak sepi  pembeli.  Salah satu pasar di kawasan Jakarta Timur itu sangat berbeda dibanding hari-hari biasanya yang padat dan ramai. Kali ini tampak sepi. Bahkan kendaraan yang terparkir sangat minim.  

Salah satu pedagang pakaian anak mengatakan, kondisi pasar mulai sepi saat terjadi virus corona. “Ini sangat berimbas pada pendapatan kami. Repot kalau begini terus,”ujarnya.

Menurutnya,  setelah lewat pukul 11.00 WIB, siang hari, sudah sangat kurang orang yang berbelanja di pasar. Dagangan pun tentu aja banyak yang tak laku. Karena itu ia berharap wabah COVID-19  ini bisa cepat selesai.

Yanto, pedagang daging ayam juga merasakan demikian. “ Jam 10 masih numpuk dagangan ini. kami sangat khawatir pak kalau begini terus.,”ujarnya sambal geleng geleng kepala.

Pedagang sayur pun demikian. Munawar seorang  tukang sayur mengatakan, untuk mendapatkan sayur juga sulit. “Kita dapat juga sulit. Jualnya juga sudah sepi pembeli. Aturan jaga jarak dan tidak berpergian ke pasar sangat berdampak. “Jadi kalau enggak laku ya udah jadi risiko,” ungkapnya.  

Penjagaan juga diperketat oleh anggota TNI dan securty pasar untuk, setiap pengunjung yang ingin masuk ke pasar akan dicek suhu dan cuci tangan. 

Untuk kepasar basah (pasar ikan) dipastikan pengunjung memakai masker, peraturan tersebut sudah pasang sebelum masuk pasar basar.

Sebelumnya Seorang pedagang di Pasar Obor Cijantung dinyatakan positif Covid-19 usai jalani rapid test dan swab test Covid-19 pada Jumat (29/5/2020) lalu.

Informasi itu berdasarkan data dari Perumda Pasar Jaya pada Kamis (11/6/2020).

Adapun rapid test dan swab test di Pasar Obor Cijantung pada 29 Mei 2020 lalu diikuti 75 peserta yang terdiri dari pengunjung dan pedagang pasar.

Hasilnya, empat orang reaktif Covid-19 berdasarkan hasil rapid test. Kemudian, dari empat orang itu, seorang pedagang dinyatakan positif Covid-19.

 (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)ijantung (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) memperkirakan laju inflasi pada Juni masih rendah. Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) menjadi pemicunya.

"Kami bisa sampaikan berdasarkan Survei Pemantauan Harga (SPH) minggu pertama Juni ini, kita lihat inflasi month-to-month 0,04%. Berarti year-on-year 1,81%," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam briefing Perkembangan Ekonomi Terkini, Jumat (5/6/2020).

Jika ini terwujud, maka inflasi Juni lebih rendah ketimbang Mei. Bulan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi month-to-month 0,07% dan year-on-year 2,19%.


Momen puasa Ramadan dan hari raya Idul Fitri yang seharusnya dapat mendongkrak konsumsi dan mengerek naik konsumsi pun tak terjadi tahun ini. Bahkan pos makanan, minuman dan tembakau tercatat mengalami deflasi sebesar -0.32% (month on month).

Komoditas yang menyumbang inflasi pada bulan Mei lalu adalah bawang merah dan juga daging ayam ras segar. Isu menipisnya pasokan di pasar membuat harga bawang merah melambung. 

Produksi yang kurang baik lantaran cuaca yang tidak mendukung hingga banjir di Brebes awal tahun menjadi salah satu faktor pemicu naiknya harga komoditas bawang merah.

Biasanya setelah lebaran usai, tingkat inflasi cenderung melambat. Jika dilihat beberapa indikator harga terutama harga sembako memang cenderung stabil. Bahkan beberapa harga komoditas pangan strategis tertentu harganya malah turun.

Untuk harga bawang merah dan juga cabai merah besar yang memiliki margin perdagangan dan pengangkutan (MPP) yang tinggi selama 18 hari terakhir cenderung berada pada tren penurunan.

Harga bawang merah yang sempat melejit hingga Rp 60.000/Kg di awal Juni kini sudah mendekati Rp 50.000/Kg di hampir seluruh pasar tradisional dalam negeri. Artinya di sepanjang bulan berjalan harga bawang merah telah turun 14,8%.

Sementara itu di saat yang sama, harga cabai merah cenderung stabil mendekati rentang Rp 30.000 - Rp 31.000 per kilogramnya di berbagai pasar tradisional dalam negeri. 

Untuk beberapa harga komoditas pangan strategis Indonesia yang mengandalkan ekspor seperti gula pasir dan bawang putih harganya terus menurun. 

Pada awal bulan ini satu kilogram bawang putih dibanderol di Rp 32.500. Per minggu lalu harga satu kilogram bawang putih sudah berada di bawah Rp 30.000 atau tepatnya berada di Rp 27.800. Artinya harga bawang putih turun 14,5% di sepanjang bulan ini.

Harga bawang putih sempat melambung di awal-awal wabah corona merebak di China. Maklum Indonesia mengkonsumsi rata-rata 500 ribu ton per tahun bawang putih. Hampir semuanya diimpor dari China.

Sehingga ketika China terjangkit wabah dan menerapkan lockdown terjadi disrupsi rantai pasok yang juga turut dirasakan Indonesia sebagai negara pengimpor bawang putih dari Negeri Tirai Bambu.

Untuk komoditas lain yang juga mengandalkan impor yakni gula pasir meski harganya masih lebih tinggi dibandingkan yang dipatok pemerintah, trennya sudah mulai menurun.

Harga satu kilogram gula pasir sudah mendekati Rp 15.000/Kg di pasar-pasar tradisional dalam negeri. Di sepanjang bulan ini saja, harga gula pasir sudah turun sebesar 6,88%.

Selain harga komoditas pangan di atas, harga daging ayam ras segar juga masih tergolong tinggi di atas Rp 30.000/kg. Bahkan nyaris menyentuh Rp 40.000/Kg. Namun harga berangsur turun sejak 12 Juni lalu dan kini dibanderol di Rp 38.050/kg.

Daya Beli Susut, Inflasi Lemah
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading