Kemarau Panjang Menghantui, Waspada Krisis Pangan!

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
20 June 2020 12:30
Erick Tohir dan Budi waseso di Gudang Bulog Kelapa Gading. (CNBC Indonesia/ Monica Wareza)

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa negara di dunia mulai menunjukkan kekhawatiran mengenai ancaman ketahanan pangan. Bahkan negara-negara tersebut sudah mulai mengerem ekspor pangan setelah adanya peringatan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO/Food and Agriculture Organization) soal ancaman krisis pangan.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan saat ini beberapa negara sudah mendeteksi adanya kemarau panjang yang bakal mengganggu produksi pangan.

Peringatan tersebut diimplementasikan sejumlah negara dengan memprioritaskan kebutuhan dalam negeri seperti India dan Vietnam. Artinya, negara produsen pangan yang biasanya mengekspor komoditasnya, kini akan lebih ketat menyuplai barang ke luar negeri.


Erick Tohir dan Budi waseso di Gudang Bulog Kelapa Gading. (CNBC Indonesia/ Monica Wareza)Foto: Erick Tohir dan Budi waseso di Gudang Bulog Kelapa Gading. (CNBC Indonesia/ Monica Wareza)
Erick Tohir dan Budi waseso di Gudang Bulog Kelapa Gading. (CNBC Indonesia/ Monica Wareza)

"Ada beberapa negara yang mereka mengutamakan untuk dalam negerinya, untuk masalah pangan. Sehingga mereka tidak akan menjual keluar. Nah ini tentunya juga menjadi antisipasi kita," kata Buwas, sapaan akrabnya, kepada CNBC Indonesia belum lama ini.

Dengan kondisi demikian, dia menegaskan bahwa seharusnya Indonesia justru lebih giat menggelorakan produksi pangan. Pasalnya, Indonesia memiliki banyak lahan yang selama ini belum termanfaatkan.

"Karena negara kita kan negara agraris, lahan pertanian luas dan produksi pangan kita banyak, besar, dan tidak hanya satu jenis ya, banyak," tandas mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) ini.

Menurutnya yang terpenting adalah mempersiapkan pangan, karena Indonesia masih memiliki banyak lahan produktif.

Meski demikian, menurutnya masyarakat tidak perlu khawatir mengenai stok pangan dalam negeri. Kendati begitu, menurutnya tidak khawatir bukan berarti terlena dan tidak menyiapkan antisipasi. Apalagi, persoalan ketahanan pangan ini merupakan masalah dunia.

"Jangan juga terlena begitu sudah ada warning ya tentang itu dan bisa saja terjadi di Indonesia karena itu secara internasional seluruh dunia ya. Tapi kan kita harus menyiapkan itu ya jauh hari. Artinya dengan demikian kita harus mengantisipasi bagaimana cadangan pangan kita, bisa mencukupi," urainya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya mengatakan United States Department of Agriculture (USDA) memproyeksikan produksi padi secara global pada sepanjang 2019-2020 mencapai 493,8 juta ton atau lebih rendah dari realisasi produksi padi secara global pada 2018-2019 yang mencapai 496,5 juta ton.

"Indeks harga pangan dunia periode Januari-Mei 2020 cenderung menurun. Penurunan relatif tajam terjadi pada harga minyak nabati dan hasil peternakan," kata Airlangga.

Sementara negara pengekspor beras seperti Thailand dan Vietnam, diakui Airlangga juga akan memasuki musim kering. Sementara Vietnam dan India juga sudah melakukan pembatasan ekspor.

"Vietnam dan India melarang ekspor dan harus diproduksi, kalau mengandalkan impor cukup sulit," katanya.

Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah. Ia menegaskan bahwa ancaman krisis pangan di dunia, terutama di Indonesia tidak main-main. Oleh karena itu pemerintah telah menyiapkan beberapa strategi agar krisis pangan tidak terjadi di Indonesia.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading