Adu 'Otot' AS & China Tanamkan Investasi, RI Pilih Mana?

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
14 June 2020 14:20
Chinese and U.S. flags flutter near The Bund, before U.S. trade delegation meet their Chinese counterparts for talks in Shanghai, China July 30, 2019.  REUTERS/Aly Song

Jakarta, CNBC IndonesiaChina dikenal memiliki pengaruh politik dan ekonomi yang besar di Asia Tenggara. Seiring waktu, pengaruh itu terus tumbuh. Di sisi lain, Amerika Serikat (AS), saingan sekaligus mitra dagang China, juga dikabarkan sedang berupaya mengejar ketinggalan.

Namun, menurut CSIS, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Washington DC, ketertinggalan AS diperkirakan bakal lebih jauh dalam dekade berikut. Sebab, China masih lebih menarik dalam berbagai hal dalam pandangan negara-negara kawasan.

Pernyataan itu merupakan hasil dari survei yang dilakukan CSIS pada November dan Desember tahun lalu, sebelum wabah Covid-19 menyebar secara global. Survei ini diikuti para pakar non-pemerintah di seluruh Asia Tenggara dan mereka yang memiliki hubungan internasional. Secara total, 188 ahli seperti dari Vietnam, Thailand, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Filipina mengikuti survei tersebut.

"Hasil survei ini melukiskan gambaran pengaruh China yang jelas berpengaruh di Asia Tenggara, pandangan China yang kompleks dan berbeda, dan keprihatinan mendalam terhadap persaingan strategis AS-China dan dampaknya terhadap ASEAN," demikian laporan CSIS, yang diterbitkan pada Rabu (10/6/2020).

Laporan itu muncul ketika ketegangan antara AS dan China semakin meningkat. Kedua negara bersitegang dalam berbagai masalah yang termasuk penanganan China terhadap wabah Covid-19 dan berbagai langkah kontroversial yang dibuat China seputar Hong Kong, wilayah semi-otonom China yang memiliki hubungan perdagangan khusus dengan AS.

CSIS menilai pandemi Covid-19 bisa saja mengubah dinamika di Asia Tenggara dan bagaimana responden memikirkan masalah yang tercakup dalam survei. Namun, laporan itu memberikan dasar untuk membuat perbandingan dalam menilai tren di wilayah tersebut setelah pandemi.

Berikut sebagian hasil dari survei:

Kekuatan politik saat ini: Sekitar 94,5% responden memilih China sebagai salah satu dari tiga negara dengan kekuatan dan pengaruh politik paling besar di Asia Tenggara saat ini, sementara 92% memilih AS sebagai salah satu pilihan mereka;

Kekuatan politik dalam 10 tahun ke depan: 94,5% memilih China sebagai salah satu dari tiga negara yang akan memiliki kekuatan dan pengaruh politik paling besar di kawasan ini 10 tahun dari sekarang. Hanya 77% responden yang memilih AS;

Kekuatan ekonomi saat ini: 98% responden menyebut China sebagai salah satu dari tiga negara yang memiliki kekuatan dan pengaruh ekonomi paling besar di Asia Tenggara saat ini, sementara 70,6% memilih AS.

Kekuatan ekonomi dalam 10 tahun ke depan: Sekitar 96% memilih China sebagai salah satu dari tiga negara dengan kekuatan dan pengaruh ekonomi paling besar di kawasan ini 10 tahun dari sekarang, dibandingkan 56,7% yang memilih AS;

Masa depan politik China: Para responden dari Thailand, Malaysia, dan Indonesia adalah yang paling banyak mendukung kekuatan dan pengaruh politik China di masa depan.


Namun, meskipun China memiliki keunggulan atas AS dalam pengaruh politik dan ekonomi di Asia Tenggara, responden agak sulit memutuskan persepsi mereka tentang China. Sebanyak 53% responden merasa bahwa peran China di kawasan "sangat atau agak menguntungkan", sementara 46% menganggapnya "agak atau sangat merugikan".



Di sisi lain, kehadiran AS di Asia Tenggara, wilayah yang merupakan rumah bagi lebih dari 650 juta orang dan beberapa negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, tampaknya tidak bisa diabaikan begitu saja. AS selama bertahun-tahun memiliki tingkat kehadiran penting di kawasan melalui keterlibatannya di bidang keamanan dan ekonomi.

Tapi sayangnya, China memang telah memiliki posisi yang terlihat sulit tergantikan, mengingat kedekatannya dengan Laut China Selatan, rute pengiriman komersial yang penting yang dilalui triliunan dolar perdagangan. China juga memiliki dorongan yang lebih agresif di Asia Tenggara melalui berbagai programnya termasuk investasi infrastruktur Belt and Road Initiative.

"Survei ini memperjelas bahwa kawasan tersebut meyakini keseimbangan relatif kekuatan politik berubah, dengan penurunan relatif dalam pengaruh AS," tulis laporan itu.

Namun, bagaimana dengan Indonesia? Negara manakah yang paling dekat dengan Indonesia?

Jika melihat sejarah, Indonesia memiliki hubungan yang sangat dekat baik dengan dengan China maupun AS. Sebelumnya, Indonesia telah memiliki banyak kerja sama dengan China, salah satunya dalam proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung.

Namun, baru-baru ini, AS juga terus memperkuat investasi di Indonesia. Menurut laporan Nikkei Asian Review, Indonesia sedang dalam pembicaraan dengan pemerintah AS mengenai kemungkinan relokasi perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di China ke Indonesia.

Hal itu dilakukan di tengah upaya diversifikasi produksi yang dilakukan berbagai bisnis dan pemerintah di seluruh dunia dalam menanggapi gangguan rantai pasokan yang disebabkan oleh wabah Covid-19.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, pemerintah RI telah menawarkan slot untuk bisnis AS di kawasan industri, termasuk kawasan industri Kendal di Jawa Tengah, kawasan ekonomi khusus yang kaya akan insentif pajak.

Tempat lainnya adalah kawasan industri Brebes, salah satu dari 89 Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dipilih oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk pengembangan.

"Sekitar 20 perusahaan telah menunjukkan minat untuk pindah ke Indonesia," kata Luhut.

Seorang juru bicara kementerian menambahkan bahwa Luhut telah mengadakan pembicaraan dengan CEO International Development Finance Corporation AS Adam Bohler, sebuah badan pemerintah, setelah Jokowi mengadakan pembicaraan dengan Presiden AS Donald Trump.

Namun demikian, Indonesia dipandang masih memiliki kelemahan ketimbang beberapa negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand, yaitu termasuk dalam hal memperoleh izin lahan.

"Di Vietnam, pemerintah dapat menyediakan tanah dan menjamin banyak hal untuk dipercepat," kata Yulius Yulius, direktur pelaksana Boston Consulting Group's di Jakarta.



[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading