Sudah Punya Rumah Tapi Gaji Dipotong Tapera, Apa Untungnya?

News - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
05 June 2020 19:45
Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.
Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.
Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.
Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit.
Jakarta, CNBC Indonesia - Gaji pegawai baik negeri maupun swasta bakal dipotong untuk iuran Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) sebesar 3% setiap bulan. Program pemerintah ini dirancang untuk mempermudah pembiayaan rumah bagi warga yang belum punya hunian.

Jika peserta Tapera sudah punya rumah, maka masih ada layanan lain yang disediakan BP Tapera.

Komisioner BP Tapera Adi Setianto menyebut, setidaknya 3 layanan yang bisa dimanfaatkan peserta. Selain untuk mendapatkan pembiayaan perumahan, peserta yang sudah memiliki rumah bisa mengajukan fasilitas pinjaman. Fasilitas ini khusus bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang bergaji antara Rp 4-8 juta.


"Kalau sudah ada rumah, ada fasilitas untuk renovasi. Kalau sudah punya tanah, bisa mengajukan pinjaman untuk bangun rumah," ujarnya dalam jumpa pers virtual, Jumat (5/6/20).



Pinjaman itu disalurkan lewat perbankan atau lembaga keuangan non bank multifinance yang bergerak di bidang pembiayaan.

"Jadi kalau sudah ada rumah masak sih 5 tahun nggak butuh renovasi. Silakan mengajukan. Nanti penyalurannya melalui bank atau lembaga keuangan, tugas kami hanya dari sisi likuiditas," bebernya.

Adi menegaskan, program BP Tapera juga dinilai membantu MBR untuk terjangkau sektor keuangan. Dia menilai, selama ini belum semua MBR tersentuh oleh bank.

"Enggak semua masyarakat segmen MBR ini memiliki akses ke perbankan. Di BP Tapera akses untuk penyediaan rumah mereka bisa lebih mudah lagi, ini kan value juga buat teman-teman MBR," katanya.

Terlepas dari itu, dia juga buka suara mengenai program Tapera yang bersinggungan dengan program Manfaat Layanan Tambahan (MLT) yang dimiliki BP Jamsostek. Adi bilang, Tapera berbeda dengan MLT.

"BP Jamsostek ada MLT, tapi MLT suku bunganya masih agak tinggi," ucapnya

Ia mengatakan melalui menabung di BP Tapera, suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang ditawarkan sebesar 5%. Dengan begitu, ada selisih yang lebih murah dibandingkan dengan rata-rata suku bunga KPR di program MLT yang bisa sekitar 9%. Suku bunga ini kelak bakal berlaku pula bagi pekerja swasta, walaupun pihak swasta baru diwajibkan bergabung BP Tapera paling lambat 2027.

"Swasta kan belum masuk di kita, tapi kita dapat arahan dari Kemenaker, nanti bagaimana integrasikan ini dengan BP Jamsostek, jangan sampai ini nanti merugikan penabung," urainya.

[Gambas:Video CNBC]




(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading