Curhat Pengusaha

Lebaran 2020 Memang Beda: Bayar THR Molor, Tak Ada Untung!

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
22 May 2020 14:26
Rolls of cloth are stacked in the warehouse of a textile factory which has its own water treatment facilities located near the Citarum river in Majalaya, south-east of Bandung, West Java province, Indonesia, February 14, 2018. REUTERS/Darren Whiteside
Jakarta, CNBC Indonesia - Momentum Lebaran 2020 yang biasanya jadi ajang 'panen' tahunan bagi pengusaha tapi yang terjadi bisa sebaliknya. Sektor makanan pun terpukul yang biasanya panen jualan jelang Lebaran, tak kalah parahnya sektor sandang juga kena imbasnya.

Ketua Umum Gabungan Eksportir Indonesia (GPEI) yang juga pengusaha tekstil dan produk tekstil (TPT) menceritakan pengalamannya saat membandingkan momen Lebaran 2020 dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Bedanya kalau saya sebagai pengusaha TPT sangat memukul sekali karena pasar international runtuh dan khusus lebaran pasar dalam negeri ambruk," kata Benny kepada CNBC Indonesia, Jumat (22/5).




Ia mengaku sebagai pengusaha dengan sangat menyesal biasanya bisa membayar THR pada dua minggu sebelum Hari Raya. Namun, sekarang satu minggu baru bisa bayar THR kepada para pekerjanya.

"Itupun tidak penuh 100 % tapi kita jadwal kan beberapa kali," katanya.

Selain itu, pada masa jelang lebaran tahun-tahun sebelumnya pabrik tekstilnya kerja full time dan speed tinggi. "Sekarang hanya beberapa bagian saja yang kerja dengan jam kerja biasa," katanya.

Pada puasa saat tak ada pandemi corona tahun-tahun sebelumnya, ia dan para ribuan karyawannya melakukan buka puasa bersama di kantor dan pabrik, tapi sekarang tak bisa karena ada social distancing.

Selain itu, jangankan untung, sekarang ini yang paling penting bisa menekan kerugian agar tak terlalu besar karena pendapatan menipis, pemasukan relatif tetap.

"Kalau untung pasti tidak, yang pasti berupaya mengurangi kerugian," katanya.

[Gambas:Video CNBC]




(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading