Internasional

Heboh Jasad WNI ABK China Dibuang ke Laut, Ini Kronologinya

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
07 May 2020 10:26
Screenshot Youtube

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu mengenai dugaan perbudakan terhadap warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di kapal penangkap ikan asal China, ramai diperbincangkan setelah diberitakan oleh stasiun televisi Korea Selatan, MBC News pada Selasa (5/5/2020).

Media itu juga mengunggah sebuah video ke kanal YouTube MBCNEWS dengan judul berbahasa Korea, yang jika diterjemahkan berarti "[Eksklusif] 18 jam sehari kerja ... jika sakit dan tersembunyi, buang ke laut (2020.05.05 / News Desk / MBC)".

[Gambas:Youtube]



Dalam video tersebut terlihat beberapa jasad WNI ABK kapal Longxing 629 China yang meninggal akibat sakit, dibuang ke laut.

Video tersebut sempat menjadi trending di Korea Selatan. Hal itu karena ABK kapal yang menjadi saksi atas kejadian itu sempat meminta tolong kepada pemerintah Korea Selatan dan media itu, sebagaimana dijelaskan oleh YouTuber asal Korea Selatan yang fasih berbahasa Indonesia, Jang Hansol atau dikenal dengan Korea Reomit.




"Video yang bakal kita lihat habis ini adalah video kenyataan tentang pelanggaran hak asasi manusia orang-orang Indonesia yang bekerja di ... perkapalan China ... kapal besar yang pergi menangkap ikan itu," jelasnya melalui sebuah unggahan di Youtube, Rabu (6/5/2020).

"Dan MBC berhasil mendapatkan informasi ini karena kebetulan kapalnya itu pergi ke Busan atau mampir di pelabuhan Busan dan waktu itu orang-orang Indonesia ini menyampaikan berita ini kepada pemerintah Korea dan juga TV MBC. Orang-orangnya ini yang meminta bantuan."

Lebih lanjut, Hansol mengatakan bahwa MBC awalnya tidak mempercayai kabar itu saat pertama melihat video yang ditunjukkan para ABK, apalagi sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Terlihat dibutuhkannya investigasi internasional sesegera mungkin atau secepat mungkin," kata Hansol, menjelaskan pernyataan pembawa berita media tersebut.

Dalam video itu juga terdapat cuplikan yang menunjukkan adanya surat pernyataan antara para ABK dengan pihak terkait mengenai kontrak kerja mereka. Selain itu, beberapa ABK juga terlihat bersaksi menjelaskan kronologi kejadian di atas kapal.

Menurut Hansol, salah seorang ABK menjelaskan ke media itu bahwa para ABK memiliki tempat kerja yang buruk dan terjadi eksploitasi di kapal tersebut. Selain itu juga terjadi diskriminasi di atas kapal itu, di mana para ABK WNI tidak mendapat air minum yang selayaknya didapat ABK asal China.

"Jadi dikatakan kalau mereka itu sebenarnya bawa air minum, air mineral. Tapi yang minum air mineral itu cuma nelayan China-nya. Sedangkan untuk nelayan Indonesia itu disuruh minum air laut yang difiltrasi." jelas Hansol.

Ia juga mengatakan bahwa para ABK bekerja sekitar 18 jam sehari. Mirisnya, upah yang mereka terima juga jauh di bawah layak.

"Lima di antara nelayannya setelah bekerja 13 bulan hanya dibayar US$ 120, berarti sekitar Rp 1,7 jutaan," katanya. "Berarti gaji bulanannya itu Rp 100.000."

Viralnya dugaan kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap para ABK asal Indonesia itu telah mendapat perhatian dari pemerintah. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengatakan sudah meminta penjelasan China.

"KBRI Beijing telah menyampaikan nota diplomatik untuk meminta klarifikasi mengenai kasus ini," kata Kemlu dalam rilis yang diterima CNBC Indonesia, Kamis.

"Guna meminta penjelasan tambahan mengenai alasan pelarungan [menghanyutkan] jenazah dan perlakuan yang diterima ABK WNI lainnya, Kemlu akan memanggil Duta Besar China."



Berdasarkan data Kemlu, kedua kapal tersebut membawa 46 awak kapal WNI. Sebanyak 15 di antaranya berasal dari Kapal Long Xin 629.

KBRI Seoul berkoordinasi dengan otoritas setempat telah memulangkan 11 awak kapal pada 24 April 2020. Sedangkan 14 awak kapal lainnya akan dipulangkan pada 8 Mei 2020.

KBRI Seoul juga sedang mengupayakan pemulangan jenazah awak kapal dengan inisial E yang meninggal di RS Busan karena pneumonia. Sedangkan 20 awak kapal lainnya melanjutkan bekerja di kedua kapal itu.

Aturan pelarungan jenazah diatur dalam International Labour Organization/ILO Seafarer's Service Regulation. Setidaknya ada syarat yakni jenazah penyakit menular atau kapal tidak memiliki fasilitas menyimpan jenazah sehingga dapat berdampak pada kesehatan di atas kapal.

[Gambas:Video CNBC]

 


(res/res)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading