Sukses Turunkan Kasus Corona, Vietnam Longgarkan Karantina

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
23 April 2020 18:44
A motorcyclist drives past a poster calling people to take care of their health against the new coronavirus in Hanoi, Vietnam Tuesday, April 14, 2020. The new coronavirus causes mild or moderate symptoms for most people, but for some, especially older adults and people with existing health problems, it can cause more severe illness or death. (AP Photo/Hau Dinh)
Jakarta, CNBC Indonesia - Vietnam mulai melonggarkan larangan pembatasan sosial dan kebijakan karantina, menyusul dengan stabilnya kasus terjangkit virus corona (COVID-19).

Salah satu negara anggota ASEAN ini hanya mencatat 268 kasus virus dan nol kematian.

Vietnam juga jadi salah satu negara pertama yang melarang penerbangan ke dan dari China Daratan. Pada awal Februari, ketika negara itu memiliki lebih dari selusin kasus terjangkit, desa dengan 10.000 orang yang dekat dengan ibukota Hanoi langsung dikarantina.


Pemerintah Vietnam bekerja sama dengan masyarakatnya untuk menjaga lingkungan masing-masing. Sebuah komunitas masyarakat tiap daerah ditugaskan untuk mengawasi lingkungan tinggalnya masing-masing.

Kini, sudah tidak ada penerbangan internasional yang tiba di bandara Vietnam, ditambah negara itu telah mengunci sebagian wilayahnya sejak awal April.



Jalanan di kota Hanoi, yang biasanya dibanjiri sepeda motor, turis, dan pedagang kini sepi. Masih banyak beberapa masyarakat yang berada di jalan, itu pun kebanyakan adalah mereka yang sedang mengantri di ATM beras.

Kontrol ketat tampaknya terbayar. Setelah tidak ada laporan infeksi baru untuk hari keenam berturut-turut pada Rabu (22/4/2020), pemerintah mengatakan beberapa toko dan layanan akan diizinkan untuk dibuka kembali.

Pada Kamis (23/4/2020) esoknya, beberapa kafe di ibukota telah kembali beroperasi, meskipun jalan-jalan masih cukup sepi. Sedangkan, beberapa sekolah di seluruh negeri akan dibuka kembali minggu depan.

Keberhasilan Vietnam dalam meyakinkan masyarakat untuk bekerja sama untuk dikarantina merupakan kunci mereka, kata Takeshi Kasai, Direktur regional Pasifik Barat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Mereka benar-benar melakukan bagian mereka," kata Kasai pada awal pekan ini, dikutip dari AFP, menambahkan dia percaya sekitar 80.000 orang ditempatkan di bawah karantina, "Saya pikir itulah alasan mengapa mereka dapat terus menjaga jumlah (infeksi) kecil."

Penanganan Vietnam Diluar Ekspektasi

Berbeda dengan negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat, Vietnam berhasil menempatkan puluhan ribu warganya di bawah karantina negara, dan warga negara asing. Mereka yang baru pulang melancong ke luar negeri langsung ditempatkan di kamp-kamp militer di seluruh negeri.

Salah satu warga Vietnam yang baru kembali dari Jerman pada Maret lalu, Vu Thi Nhung dan putranya harus menghabiskan karantina dua minggu di asrama kamp di Hanoi. Mereka tidur di ranjang susun tanpa kasur, namun mereka mendapatkan makan tiga kali sehari yang disiapkan di luar kamar mereka oleh tentara.

"Anda tidak dapat membandingkannya dengan berada di rumah, tetapi mengingat Vietnam dan situasi ekonominya saat ini saat epidemi, itu melebihi harapan saya," katanya kepada AFP.

Pakar Vietnam Carl Thayer, seorang profesor emeritus di Universitas New South Wales, mengatakan jumlah kasus Vietnam harus ditangani dengan hati-hati karena Hanoi dapat menghukum siapapun yang membantunya.

Namun dia menambahkan: "Ada terlalu banyak orang dari luar negeri, terlalu banyak orang dengan ponsel, terlalu banyak orang di internet (untuk ditutup-tutupi)."

Menurut data Worldometers, Vietnam memiliki 268 kasus terjangkit, 0 kasus kematian, dan 223 kasus berhasil sembuh sejauh ini.

[Gambas:Video CNBC]




(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading