Bunga Kartu Kredit RI Tinggi, Bos BI: Ini Zaman Lagi Susah!

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
23 April 2020 07:48
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberi keterangan pers
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mengumumkan adanya perubahan aturan bagi kartu kredit. Di antaranya menurunkan batas maksimal suku bunga dari 2,25% per bulan menjadi 2% per bulan.

BI juga mengubah penurunan sementara nilai pembayaran minimum dari 10% menjadi 5%, dan mengubah besaran denda keterlambatan pembayaran dari 3% atau maksimal Rp 150 ribu menjadi 1% atau maksimal Rp 100 ribu.





Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, bunga kartu kredit Indonesia tertinggi di seluruh dunia. Oleh karenanya, dia meminta kepada pelaku industri kartu kredit atau Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) untuk mau menurunkan bunga kartu kredit.

"Mari kita turunkan. Bagi kemudahan-kemudahan dalam kartu kredit. [...] Ini zaman lagi susah untuk mempermudah pembayaran-pembayaran secara virtual. Tolong suku bunganya diturunkan," jelas Perry dalam video conference, Rabu (22/4/2020).

Perry juga menilai bahwa suku bunga kartu kredit di Indonesia tertinggi dari seluruh dunia. Dalam setahun rata-rata suku bunga kartu kredit mencapai 24% sampai 26,6%.

"Karena suku bunga kartu kredit di Indonesia itu tertinggi dari seluruh dunia, 26,6% [dalam setahun]. Tolong diturunkan. Kawan-kawan [industri kartu kredit] sepakat. Demikian juga mengenai batas maksimum dan yang lain," ujarnya.



Direktur Eksekutif Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Martha mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang juga akan menerapkan perubahan aturan bagi kartu kredit pada 1 Mei 2020 mendatang guna menjaga resiko tingginya NPL pada konsumen kartu kredit.

"Kebijakan ini dibuat memang tujuannya short term (jangka pendek) dalam menggalakkan transaksi-transaksi kartu kredit dengan cara yang preferable untuk melakukan pembayaran atau menjaga tingkat NPL," kata Steve dalam Virtual Video Interview.

"Untuk ke depannya, diperkirakan industri kartu kredit akan menjadi lebih sehat sebab ini yang diutamakan oleh penerbit (menjaga NPL)."

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya

Rupiah Oke, BI Catat 'Untung' Rp 33 T di 2019


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading