Internasional

Duh AS Terancam Gelombang Kedua COVID-19, Bisa Lebih Buruk

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
22 April 2020 11:57
A Trump Unity sign on a trailer is shown parked at a protest in front of the Michigan State Capitol in Lansing, Mich., Wednesday, April 15, 2020. Flag-waving, honking protesters drove past the Michigan Capitol on Wednesday to show their displeasure with Gov. Gretchen Whitmer's orders to keep people at home and businesses locked during the new coronavirus COVID-19 outbreak. (AP Photo/Paul Sancya)

Jakarta, CNBC IndonesiaAmerika Serikat (AS) kemungkinan bakal dilanda gelombang kedua wabah virus corona (COVID-19) pada musim dingin mendatang.

Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), Robert Redfield, mengatakan gelombang kedua wabah itu bisa lebih parah dari yang pertama, karena kemungkinan akan tiba pada awal musim influenza.

"Ada kemungkinan bahwa serangan virus pada bangsa kita pada musim dingin tahun depan sebenarnya akan lebih berat daripada yang baru saja kita lalui," kata Redfield kepada Washington Post dalam sebuah wawancara, Selasa (21/4/2020).

"Kita akan mengalami epidemi flu dan epidemi virus corona pada saat yang bersamaan," tambahnya, sembari memperingatkan akan ancaman pada sistem kesehatan AS saat masa itu terjadi, mengutip The Star.


Menurut CDC, musim flu biasanya tiba di AS sekitar September. Tahun lalu sedikitnya 34.200 orang AS meninggal akibat flu dan membuat sekitar 35,5 juta orang jatuh sakit, jelas CDC, sebagaimana dilaporkan CNN International.

Lebih lanjut, Redfield mengimbau seluruh warga untuk tetap waspada meski banyak yang menyebut jumlah kasus corona AS mulai menurun. Ia bersama otoritas kesehatan publik lainnya juga meminta agar semua orang tetap mematuhi imbauan menjaga jarak, dan mengurangi intensitas keluar rumah sebagai pencegahan.

Redfield dan otoritas kesehatan publik lainnya menyebut upaya pencegahan tersebut cukup mampu menekan penyebaran wabah meski pembatasan (shutdown) juga membuat ekonomi dan perdagangan AS terhambat.

Ia juga memberikan pesan kepada otoritas kesehatan masyarakat untuk meningkatkan sistem pengujian, untuk mengidentifikasi mereka yang terinfeksi corona dan memperluas pelacakan kontak.


AS pertama kali mengonfirmasi kasus virus corona pada 20 Januari di negara bagian Washington dekat Seattle. Dalam waktu tiga bulan ini, penyebaran wabah asal Wuhan, China itu sudah teramat sangat pesat di AS.

Per pukul 10:45 WIB Rabu, AS sudah memiliki 819.164 kasus corona dengan 45.340 kematian dan 82.973 orang sembuh. Ini menjadikannya sebagai negara dengan jumlah kasus corona terbanyak di dunia, menurut Worldometers.

Menanggapi pernyataan Redfield, koordinator gugus tugas COVID-19 Gedung Putih, Dr. Deborah Birx, mengatakan pernyataan Redfield dapat mempengaruhi rencana untuk membuka kembali negara itu.

"Kami sangat jelas dalam pedoman yang kami yakini dapat memantau, sekali lagi, memantau masyarakat di tingkat masyarakat dengan menggunakan penyakit seperti influenza," katanya.

"Saya tidak tahu apakah (gelombang kedua) itu akan lebih buruk, saya pikir ini sudah sangat buruk. Ketika Anda melihat apa yang terjadi di New York, itu sangat buruk. Saya percaya bahwa kita akan memiliki sinyal peringatan dini baik dari pengawasan kita yang telah kita bicarakan dalam populasi rentan ini. Kita akan melanjutkan pengawasan itu dari sekarang sampai tuntas untuk dapat memberi kita sinyal peringatan dini itu."


[Gambas:Video CNBC]


(res/res)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading