Dampak Corona

Corona 1,5 Bulan: Maskapai Rugi Rp207 M, Hotel Tutup & PHK

News - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
17 April 2020 12:16
Sejumlah pesawat dari berbagai maskapai penerbangan di pelataran pesawat Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (4/1/2018)
Jakarta, CNBC Indonesia - Satu setengah bulan sudah corona atau covid-19 menghantam segala sendi kehidupan termasuk ekonomi Indonesia, sejak pengumuman kasus positif pertama 2 Maret 2020. Banyak sudah yang terjadi dalam waktu tempo yang relatif singkat itu, data-data di atas kertas menunjukkan banyak kerusakan yang ditimbulkan pandemi corona.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dikutip CNBC Indonesia Jumat (17/4), 34 provinsi sudah terpapar corona, artinya virus ini sudah menyebar ke semua provinsi.

Dampaknya bukan main-main terutama sektor yang paling terpukul khususnya pariwisata dan transportasi, sejak Januari-Februari saja sudah ada 12.703 penerbangan dibatalkan, terjadi pada 15 bandara utama. Mencakup 11.680 penerbangan domestik dan 1.023 penerbangan internasional. Bila dihitung sampai April, tentu makin banyak penerbangan yang dibatalkan.




Imbasnya menyebabkan kerugian para maskapai penerbangan, sejak April saja sudah ada 2 maskapai yang menghentikan operasi sementara. Catatan Kemenkeu ada kerugian Rp 207 miliar bagi maskapai penerbangan.

Belum lagi kerugian yang harus ditanggung para perusahaan hotel. Catatan PHRI, dari 6000 hotel di Indonesia terjadi penurunan tingkat okupansi sampai 50%. Setidaknya sudah ada 1.600 hotel yang tutup karena tak ada pengunjung sebagai dampak pembatasan sosial. Ini berdampak pada pekerja yang dirumahkan di sektor perhotelan dan tentu sektor lainnya yang terdampak.

Catatan Kemenkeu, sampai 11 April sudah ada 1,5 juta pekerja dirumahkan (90%) dan di-PHK (10%). Bahkan menggunakan data Kementerian Ketenagakerjaan dan BP Jamsostek, jumlahnya sampai 13 April sudah sampai 2,8 juta pekerja dirumahkan dan PHK, dari berbagai sektor tak kecuali manufaktur.

Di atas kertas Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia memang hanya 45,3 terkoreksi pada Maret 2020. Padahal pada Februari, angka PMI manufaktur Indonesia masih di 51,9. PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di atas 50 berarti industriawan sedang ekspansif.

Ini juga terlihat dari impor pada kuartal I-2020 yang minus 3,7%. Selama ini impor Indonesia, selain barang konsumsi, juga didominasi barang modal dan bahan baku bagi industri.

[Gambas:Video CNBC]




(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading