Pukulan Corona

Alarm Pengusaha Cuma Kuat Sampai Juni, Tempat Kerjamu Bukan?

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
07 April 2020 15:27
Kalangan pengusaha mengaku hanya kuat menahan cash flow sampai Juni 2020.
Jakarta, CNBC Indonesia - Para pengusaha memperkirakan kemampuan arus kas atau cash flow mereka hanya kuat menahan gempuran pandemi corona sampai Juni 2020. Setelah itu, mereka dipastikan tak kuat lagi, terutama sektor-sektor usaha yang paling rentan kena dampak buruk.

Ketua Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno Iwantono, mengatakan daya tahan pengusaha di Indonesia memang berbeda tergantung sektornya. Namun, secara umum mereka hanya akan kuat dalam artian sanggup membiayai pengeluaran tanpa pemasukan, sampai akhirnya tutup. 

"Hasil konferensi call kita di Apindo dengan teman-teman di daerah dan pelaku sektoral, bisa kita ambil kesimpulan sementara daya tahan cash flow kita hanya sampai bulan Juni tahun ini. Lewat dari itu cash flow kering, kita tidak akan sanggup membiayai pengeluaran, tanpa pemasukan alias tutup," kata Iwantono kepada CNBC Indonesia, Senin (6/4).




Pemerintah memang sempat memetakan sektor yang paling rentan sampai yang paling kuat dari hantaman corona. Kemenkeu mencatat secara urutan sektor yang paling kena dampak sampai yang justru diuntungkan karena corona, atara lain pariwisata, konstruksi, transportasi darat-laut-udara, pertambangan, keuangan, otomotif, usaha mikro kecil dan menengah, pertanian, jasa logistik, jasa telekomunikasi, elektronika, makanan dan minuman, kimia-farmasi-alat kesehatan, dan tekstil dan produk tekstil.

Berikut rinciannya:

Travel Agent dan Hotel Kena Duluan

Bila dirunut sejak awal, sektor yang paling terasa kena dampaknya adalah sektor pariwisata termasuk di dalamnya ada bisnis travel agent, perhotelan, hingga penerbangan

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo), Pauline Suharno, sejak awal Maret saat kali pertama kasus positif corona Indonesia terkonfirmasi di Indonesia, ia sudah berteriak soal penurunan penjualan karena virus corona berdampak pada operasional perusahaan.

Banyak perusahaan travel agent sejak awal Maret lalu tak lagi beroperasi secara penuh karena sudah terimbas secara global saat corona belum masuk Indonesia. Usaha ini yang masih bertahanpun tak kuat lagi bayar THR.

Sistem shift pegawai pun tak lagi diberlakukan, ujung-ujungnya ada travel agent telah melakukan efisiensi dan PHK. Corona memang secara langsung memperparah PHK di Indonesia.

Sektor perhotelan juga tak kalah pelik. Okupansi kamar hotel sudah lampu merah sejak awal Maret 2020. PHRI mencatat rata-rata okupansi hanya 30%, termasuk di Bali, Batam, dan Manado yang kena dampak dari susutnya wisatawan asing. Namun, kurang dari sebulan, okupansi hotel terutama di Bali sudah di level hampir 0%.

Kabar terbaru, dalam tempo hanya sebulan, mulai April banyak hotel di Indonesia tutup sementara karena tak ada pengunjung. PHRI mencatat setidaknya ada 698 hotel sudah tutup, bayangkan hanya dalam satu bulan, corona sudah memaksa ratusan hotel di Indonesia tutup. Luar biasa! Dampaknya sudah ditebak, ribuan pekerja hotel dirumahkan atau cuti di luar tanggungan.

Kekacauan Manufaktur, Kuat Sampai April

Di atas kertas, IHS Markit melaporkan Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia Indonesia Maret 2020 adalah 45,3. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 51,9 sekaligus menjadi yang terendah sepanjang sejarah pencatatan PMI yang dimulai pada April 2011.

"Perusahaan manufaktur Indonesia melaporkan penurunan paling tajam dalam periode sembilan tahun survei pada Maret disebabkan upaya untuk mencegah penyebaran virus corona menghantam sektor ini dan menyebabkan penurunan tajam pada permintaan...," kata Bernard Aw, Kepala Ekonom IHS Markit.

Laporan itu cukup relevan di lapangan, sejak awal corona menghantam China, manufaktur tertentu sudah merasakan dampaknya terutama pada periode Februari 2020. Sektor yang bergantung bahan baku impor mulai merasakan sulitnya mendapatkan bahan baku antara lain farmasi, tekstil, elektronika dan lainnya.

Sehingga ketika stok habis, dikhawatirkan tidak bisa melanjutkan produksi sebagai dampak terganggunya rantai pasok karena pandemi corona. Risikonya pada PHK, bahkan bisa berdampak pada perusahaan-perusahaan besar.

"Kelihatannya ini nggak lama (produksinya) sampe April, karena mereka juga sisa stok," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Johnny Darmawan kepada CNBC Indonesia, Senin (30/3)

Sialnya sektor otomotif yang awalnya tak terlalu mengkhawatirkan, justru termasuk yang terpukul cukup keras imbas dari corona. Setidaknya selama Maret, penjualan mobil diproyeksikan ambles cukup dalam karena masyarakat.

Honda secara jujur mengakui akan menghentikan sementara produksi mobilnya di Indonesia selama dua pekan mulai 13 April 2020. Penjualan yang lesu memang tak bisa ditutupi. Pabrikan lain ada masih sebatas pengurangan jam produksi dengan mengatur shift kerja. Potensi susulan mengikuti jejak Honda dari pabrik lain sangat memungkinkan, ini juga terjadi di banyak negara yang terdampak corona.

Sektor Penerbangan & Ancaman Bangkrut

Sektor penerbangan sebelum ada corona memang sedang sakit, tekanan biaya operasi dan mahalnya ongkos tiket penerbangan sudah menghantui bisnis ini sejak dua tahun terakhir yang dibarengi dengan penurunan penumpang pesawat. Adanya corona membuat kondisi menjadi-jadi, ibarat luka yang tersiram air cuka.

Di atas kertas, jelas tampak terpukulnya sektor ini. BPS mencatat jumlah penumpang domestik angkutan udara turun 8,08% pada Februari 2020 dibandingkan dengan Januari 2020.

Lebih lanjut, dia memerinci jumlah penumpang domestik angkutan udara sebanyak 5,79 juta pada Februari 2020, sedangkan bulan sebelumnya (Januari 2020) sebesar 6,29 juta. Penurunan jumlah penumpang juga terjadi pada penerbangan internasional, yang mengalami penurunan 33,04%.

Dua maskakapai sudah memutuskan menghentikan operasi sampai akhir April, antara lain AirAsia.

Perdagangan: Sebagian Ritel Terpukul

Sektor perdagangan memang yang paling kompleks dari persoalan corona. Awalnya sejak corona merebak di China, masalah suplai barang jadi persoalan terutama impor pangan seperti produk-produk bawang putih hingga bawang bombay. Kinerja impor pun kena dampaknya, meski ekspor membaik. Nilai ekspor pada Februari 2020 mencapai US$ 13,94 miliar. Ekspor tersebut naik 11% dibandingkan pada Februari 2019.

Perdagangan di dalam negeri, sektor ritel pangan atau swalayan offline maupun online menuai cuan, Aprindo mencatat terjadi kenaikan 20% selama pandemi corona. Namun, tak semua ritel dapat berkah. Pembatasan jam operasional hingga penutupan beberapa pusat perbelanjaan di wilayah Jabodetabek justru membuat sektor department store atau retail fashion babak belur. Ada sebagian sudah merumahkan karyawannya atau pekerja tak mendapatkan gaji.


[Gambas:Video CNBC]






(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading