Harga Minyak Terjun Bebas, Ini Siasat Efisiensi SKK Migas

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
31 March 2020 11:44
SKK migas tekankan upaya efisiensi agar bisnis migas RI bertahan di tengah anjloknya harga minyak dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah anjloknya harga minyak, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berupaya meningkatkan efisiensi.

Efisiensi ini dilakukan dengan bekerjasama dengan  PT Pertamina Persero, PT Citilink Indonesia, PT Surveyor Indonesia (Persero), dan PT Sucofindo (Persero). 

Tujuannya untuk meningkatkan penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada kegiatan usaha hulu migas. Kerjasama ini berdamak pada potensi penghematan sebesar Rp. 3,5 Triliun yang akan dihasilkan selama masa kontrak kerjasama lima tahun.


Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan akan terus melakukan berbagai lagkah agar industri hulu migas nasional semakin efisien dan bergairah untuk melakukan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan produksinya.

"Tujuan kami adalah agar target produksi 1 juta barel pada tahun 2030 dapat tercapai. Kerjasama ini adalah salah satu alat untuk mengusahakannya," kata Dwi Soetjipto, dalam keteragan resminya, Selasa, (31/03/2020).



Kerjasama Dengan Pertamina

Kerjasama dengan PT Pertamina (Persero) akan dilakukan hingga Agustus 2024 untuk membantu penyediaan kebutuhan barang operasi berupa bahan bakar, pelumas, dan petrochemical yang akan digunakan oleh industri hulu migas.  

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan dengan adanya kerjasama ini, PT Pertamina (Persero) akan memberikan potongan harga kepada sektor hulu migas. Di mana besaran diskonnya tergantung pada volume pembelian.

"Kerjasama ini bertujuan untuk mengoptimalisasi dan memaksimalkan penggunaan produk BBM, Pelumas dan Oil Base yang dihasilkan Pertamina yang merupakan produksi dalam negeri untuk mendukung kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi," ungkapnya

Deputi Dukungan Bisnis SKK Migas, Sulistya Hastuti Wahyu mengatakan, kerjasama ini memberikan  potensi penghematan cukup signifikan, yaitu sekitar Rp 3,405 triliun selama periode kontrak atau  Rp 682 miliar per tahun.

Kerjasama Dengan Citilink
Kerjasama dengan Citilink dilakukan untuk mendukung kebutuhan moda transportasi udara di sektor hulu migas yang lebih murah dan efisien. Kerjasama ini untuk melengkapi kerjasama yang telah dilakukan sebelumnya dengan maskapai full service milik negara.

Citilink akan memberikan memberikan potongan harga 20% dari basic fair atas harga tiket pesawat dan pemberian bagasi sebesar 20 kg secara gratis kepada calon penumpang dari pekerja SKK Migas dan KKKS. Dari pemberian diskon tersebut, SKK Migas dan KKKS menargetkan penghematan awal sebesar Rp 1,5 Miliar dan diharapkan bertumbuh seiring peningkatan kegiatan pada proyek-proyek besar di hulu migas.  

"Selain meningkatkan efisiensi, kerjasama ini akan memberikan ruang bagi KKKS untuk mengatur operasional lebih baik karena adanya pilihan pengunaan moda transportasi udara dengan biaya yang lebih kompetitif," tambah Sulistya

Kerjasama Dengan Sucofindo dan Surveyor Indonesia
Sementara itu, kerjasama dengan Sucofindo - Surveyor Indonesia dilakukan untuk melakukan verifikasi realisasi TKDN kontrak barang dan jasa yang digunakan menunjang kegiatan KKKS. Melalui kerjasama ini Sucofindo - Surveyor Indonesia dan KKKS akan memberikan diskon minimal 5% dari standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO).  

Atas diskon yang akan diberikan, potensi penghematan yang diperoleh hulu migas selama masa kontrak sekitar Rp 7,2 Miliar. Berdasarkan data tahun 2019, pengeluaran seluruh KKKS untuk kewajiban verifikasi TKDN mencapai Rp 105,3 Miliar.

Selain aspek biaya, kerjasama verifikasi TKDN dengan Sucofindo dan Surveyor Indonesia akan memberikan manfaat untuk standarisasi biaya verifikasi TKDN sejak WP&B, validitas database realisasi TKDN komoditas serta acuan referensi Kemampuan dalam negeri pada proyek-proyek hulu migas. 

[Gambas:Video CNBC]




(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading