Internasional

Gegara Minyak, Trump Sebut Rusia dan Arab Saudi Gila

News - Tirta Widi Gilang Citradi, CNBC Indonesia
31 March 2020 11:40
Trump kesal karena pelemahan harga minyak bisa menganggu industri energi di AS.
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat berteleponan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam Pembicaraan itu, keduanya sepakat untuk memberi fokus pada harga minyak.

AS pun berjanji akan mencabut sanksi yang diberikan ke Rusia. Maklum, sebelumnya ada puluhan entitas di negeri beruang yang terkena sanksi.

Namun sebelum itu terjadi, harga minyak yang makin rendah membuat Trump geram dengan Rusia dan Arab Saudi. Bahkan "perang minyak" keduanya disebut Trump melukai industri energi AS.


Kekecewaannya itu disampaikannya saat diwawancarai Fox News, persis sesaat sebelum panggilan telepon ia lakukan dengan Putin.

"Ini adalah pertarungan Arab Saudi dan Rusia ... Harga minyak sudah sangat rendah sekarang dan mereka [Arab dan Saudi] malah berperang secara gila-gilaan dalam hal distribusi dan produksi," kata Trump dikutip Reuters.

"Kami tidak ingin ada industri yang mati atau bahkan musnah."

"Hal ini tentu buruk bagi mereka dan semua orang. Ini adalah perseteruan antara Arab Saudi dengan Rusia terkait seberapa barel minyak yang harus diproduksi. Dan mereka berdua gila, benar-benar gila."

"Saya tidak pernah berpikir saya akan mengatakan ini, bahwa mungkin kita harus kembali menaikkan (harga) karena kita memang mampu."

Trump pun mengatakan dalam wawancara itu akan menggunakan sanksi sebagai senjata ke Rusia. "Dia (Putin) mungkin akan meminta itu ... Dia menanyakannya selama dua tahun," ujarnya.

Harga minyak mentah sudah anjlok lebih dari 50% sejak OPEC+ gagal capai kesepakatan untuk memangkas kembali produksi minyaknya. Harga yang sudah terlampau murah bahkan membuat ongkos pengeboran perusahaan migas AS tidak bisa tertutup dan imbasnya produksi minyak menjadi tidak ekonomis.

Potensi risiko banjirnya pasokan minyak di pasar akibat ketegangan Arab Saudi dan Rusia justru semakin memperburuk keadaan, mengingat akibat pandemi COVID-19 permintaan minyak anjlok dalam.

Analis dari bank investasi global Goldman Sachs memperkirakan permintaan minyak dari aktivitas perjalanan dan maskapai penerbangan sebesar 16 juta barel per hari (bpd) mungkin tak akan pulih kembali ke level sebelumnya.

Kini AS mau tak mau harus turun tangan. Tak hanya berupaya berdiskusi dengan Rusia, AS juga mendekati Arab Saudi dan meminta negeri kaya minyak itu untuk memangkas produksi minyak mentahnya. Dalam waktu dekat AS dikabarkan akan mengirim utusan khusus bernama Victoria Coates ke Kerajaan Arab.


[Gambas:Video CNBC]







(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading