Trump Telepon Putin Picu Harga Minyak Melesat, Bahas Apa Sih?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
31 March 2020 07:59
Harga minyak melesat lebih dari 1% setelah Trump dan Putin sepakat bahas upaya jaga stabilitas pasar minyak melalui telepon kemarin.
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah bergerak naik pada perdagangan pagi waktu Asia, Selasa (31/3/2020) hari ini. Kenaikan harga minyak terjadi setelah Presiden AS Donald Trump tersambung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam saluran telepon.

Pada Senin (30/3/2020) Trump dan Putin setuju bahwa pihaknya akan membahas kejatuhan harga minyak yang terjadi akhir-akhir ini serta upaya untuk menjaga stabilitas pasar.

Reuters melaporkan Menteri Energi AS Dan Brouillette akan berdiskusi dengan Menteri Energi Rusia Alexander Novak untuk membahas volatilitas yang tinggi di pasar minyak mentah global.



Beredarnya kabar tersebut direspons positif oleh pasar. Pada pagi ini pukul 07.26 WIB, harga minyak mentah kontrak futures menguat lebih dari 1%. Brent naik 1,23% ke US$ 23,04/barel. Sementara itu, minyak mentah acuan AS yakni West Texas Intermediate (WTI) melesat lebih tinggi (+2,74%) ke level US$ 20,64/barel.

Sebelum terjadi pembicaraan antara Washington dengan Moskow, Presiden AS ke-45 menilai perang harga minyak antara Arab Saudi dan Rusia yang membuat harga anjlok signifikan adalah sebuah tindakan yang gila.

"Harga minyak sudah sangat rendah sekarang dan mereka [Arab dan Saudi] malah berperang secara gila-gilaan dalam hal distribusi dan produksi" kata Trump dalam sebuah wawancara di Fox News, melansir Reuters.

Harga minyak mentah sudah anjlok lebih dari 50% sejak OPEC+ gagal capai kesepakatan untuk memangkas kembali produksi minyaknya. Harga yang sudah terlampau murah bahkan membuat ongkos pengeboran perusahaan migas AS tidak bisa tertutup dan imbasnya produksi minyak menjadi tidak ekonomis.

"Kami tidak ingin ada industri yang mati atau bahkan musnah" kata Trump. "Hal ini tentu buruk bagi mereka dan semua orang. Ini adalah perseteruan antara Arab Saudi dengan Rusia terkait seberapa barel minyak yang harus diproduksi. Dan mereka berdua gila, benar-benar gila" tambah taipan properti AS tersebut, melansir Reuters.



Potensi risiko banjirnya pasokan minyak di pasar akibat ketegangan Arab Saudi dan Rusia justru semakin memperburuk keadaan, mengingat akibat pandemi COVID-19 permintaan minyak anjlok dalam.

Analis dari bank investasi global Goldman Sachs memperkirakan permintaan minyak dari aktivitas perjalanan dan maskapai penerbangan sebesar 16 juta barel per hari (bpd) mungkin tak akan pulih kembali ke level sebelumnya.

Kini AS mau tak mau harus turun tangan. Tak hanya berupaya berdiskusi dengan Rusia, AS juga mendekati Arab Saudi dan meminta negeri kaya minyak itu untuk memangkas produksi minyak mentahnya. Dalam waktu dekat AS dikabarkan akan mengirim utusan khusus bernama Victoria Coates ke Kerajaan Arab.

Cara AS berdiplomasi ini memang jadi sentimen positif untuk harga minyak. Maklum AS juga punya kepentingan mengingat kini AS menjadi produsen minyak terbesar di dunia. Bagaimanapun juga harga minyak masih berada dalam kisaran terendahnya dalam waktu lebih dari 15 tahun terakhir.

Naik atau justru turunnya harga akan sangat bergantung dari dua hal. Pertama adalah seberapa parah dan seberapa lama wabah COVID-19 akan terus menjangkiti dunia serta apakah akan ada kesepakatan yang bersifat win-win solution antara Arab, Rusia dan AS. Kedua faktor inilah yang harus diperhatikan ke depannya.



[Gambas:Video CNBC]







TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading