Sepekan Berkilau, Harga Emas Dunia kok Mulai Meredup?

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
31 March 2020 06:02
Harga emas dunia di pasar spot mencatatkan penurunan pada perdagangan Senin.

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia di pasar spot mencatatkan penurunan pada perdagangan Senin (30/3/2020) pukul 23.00 WIB tadi malam di level US$ 1.611/troy ons, atau ambles hingga 1,01% dibandingkan dengan harga pada akhir pekan lalu di level US$ 1.628/troy ons di tengah pandemi virus corona (COVID-19).

Mengacu data Kitco, harga emas harian tertinggi tadi malam berada di US$ 1.632/troy ons dan level terendah US$ 1.601/troy ons. Pelemahan harga emas ini juga berbanding terbalik dengan indeks dolar AS yang menguat usai mencetak penurunan tajam pada pekan lalu.

Data Marketwatch mencatat, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS atas mata uang utama dunia ini ada di level 99,25 pada pukul 23.00 WIB tadi mala, atau menguat 0,89% dari posisi akhir pekan lalu 98,37.


Rebound indeks dolar ini menghentikan penurunan pekan lalu karena investor bersiap untuk ketidakpastian yang berkepanjangan dan pemerintah beberapa negara mulai memperketat penguncian (lockdown) dan meluncurkan langkah-langkah moneter dan fiskal untuk memerangi pandemi virus corona.

"Bagaimanapun juga, dolar AS adalah mata uang safe-haven," kata Rodrigo Catril, ahli strategi senior FX di National Australia Bank di Sydney. "[Penguatan indeks dolar] ini mencerminkan kehati-hatian, dan pasar yang tidak pasti di mana Anda melihat ada banyak likuidasi [aset]," katanya dikutip Reuters, Selasa (31/3/2020).

"Saya pikir, kita harus menyadari bahwa risiko masih tinggi," kata Adam Cole, ahli strategi mata uang di RBC Capital Markets, dilansir Reuters.


"Kabar dari dari Tiongkok jauh lebih baik, di Italia sudah membaik [soal corona], tapi itu tidak terjadi di Inggris dan tentu saja tidak demikian di AS," kata Cole.

Menurut Cole, pasar perlu melihat "bukti infeksi virus ini memuncak" sebelum akhirnya tenang kembali dan sebelum itu terjadi masih ada risiko terjadi aksi jual secara "brutal dan berkala".

Pasar AS sempat berbunga-bunga pada pekan lalu dipicu oleh ditandatanganinya UU paket stimulus ekonomi jumbo AS senilai US$ 2 triliun oleh Presiden Donald Trump dan bank sentral Paman Sam, The Fed yang mengumumkan program pembelian aset atau quantitative easing (QE) dengan nilai tak terbatas. 


Paket stimulus dan QE dari The Fed merupakan langkah historis yang membuat pasar diterpa angin segar dan memicu terjadinya euforia. Namun selagi musuh tak kasat mata benar-benar belum musnah, pasar masih akan diwarnai dengan volatilitas yang tinggi.


Mengacu pada data kompilasi Johns Hopkins University CSSE, sampai Senin kemarin, sudah ada 721.584 kasus kumulatif orang yang terinfeksi virus corona. Nyaris 34.000 orang dinyatakan meninggal dunia.

Ilmuwan senior AS Anthony Fauci memperkirakan virus ini dapat mengakibatkan 100.000-200.000 kematian di Amerika Serikat. Presiden Donald Trump menetapkan untuk memperpanjang waktu kebijakan "social distancing" hingga 30 April.

Di tengah ketidakpastian ini, harga emas masih bisa berpotensi kembali melorot kapan saja ketika kebutuhan akan likuiditas tinggi dan sentimen kembali risk off. Lagi pula wabah corona masih terus menelan korban.

[Gambas:Video CNBC]

Harga Emas Antam Tembus Rp 875.000/gram
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading